HUKUM SEPUTAR ZHIHAR (Larangan Memanggil Ummi atau Ibu Kepada Istri)

Standar

Definisi Zhihar

Secara bahasa Zhihar adalah pecahan dari Zhahrun (punggung). Sedangkan menurut Istilah Zhihar adalah ungkapan suami yang menyerupakan istri dengan punggung ibunya. Seperti ungkapan “Anti kazhahri ummi-Engkau bagiku laksana punggung ibuku”.

Hukum Zhihar

Hukum Zhihar berdasarkan kesepakatan para ulama adalah haram. Ini dilandaskan kepada Firman Allah “Orang-orang yang menzhihar isterinya di antara kamu, (menganggap isterinya sebagai ibunya, padahal) tiadalah isteri mereka itu ibu mereka. Ibu-ibu mereka tidak lain hanyalah wanita yang melahirkan mereka. Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta. Dan sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun”.(QS. Al-Mujadalah: 3). Dalam ayat ini ada frasa kalimat “Dan sesungguhnya mereka sungguh-sungguh mengucapkan suatu perkataan mungkar dan dusta” adalah indikasi (Qarinah) akan keharaman Zhihar.

Ibnu Katsir menuturkan ayat diatas turun berdasarkan peristiwa yang menimpa Khuwailah Binti Tsa’labah. Dia berkata, demi Allah, karena peristiwa saya dan suami saya Aus bin Shamit. Allah menurunkan surat Al-Almujadalah. Khuwailah melanjutkan ceritanya. “Pada suatu hari, saya berada disisisuamiku, sedang dia adalah orang yang sudah tua renta. Perangainya menjadi jelek dan suka membentak-bentak saya. Pada suatu saat dia masuk ketempat saya untuk memberikan sesuatu kepada saya. Lalu dia marah-marah seraya berkata “Engkau bagiku laksana punggu Ibuku”. Kemudian dia keluar, lalu duduk-duduk di kebun kurma beberapa lama. Kemudian dia masuk lagi kepada saya, maka tiba-tiba dia sangat menginginkan saya (untuk bersetubuh). Saya berkata kepadanya “jangan kau dekati saya. Demi Allah yang jiwa saya berada ditanganNya, jangan sekali-kali kamu menyentuh saya. Karena kamu telah mengucapkan kata-kata itu (zhihar). Lalu Allah memutuskan perselisihan keduanya”(HR. Imam Ahmad dan Abu Dawud).

Ungkapan-Ungkapan Zhihar

Sudah lazim diketahui bahwa zhihar adalah penyerupaan Istri dengan ibu. Dalam ayat dan hadist zhihar di identikkan dengan punggung, maka maksud dari ungkapan tersebut adalah seluruh hal yang bisa menyerupai ibu. Karena kalimat Zhihar (punggung) adalah ungkapan sebagaian yang dimaksudkan untuk seluruhnya.

Maka, menyamakan Istri dengan tangan, rambut, betis dan anggota tubuh lain dari ibu merupakan bentuk zhihar. Ini adalah pendapat mayoritas ulama Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah dan Hambaliyah. Dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa memanggil istri dengan panggilan ibu, umi, mami, mamah, dan semisalnya adalah haram karena sudah masuk dalam kategori zhihar. Hal ini bisa di fahami dalam sebuah hadits bahwa ada seorang suami yang memanggil isterinya “Wahai ukhti!”. Mendengar hal tersebut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepadanya, “Apakah dia memang saudarimu?!”. Nabi membenci hal tersebut dan melarangnya. (HR Abu Daud no 2210 dan 2211).

Ulama’ berbeda pendapat  ketika menyamakan Istri dengan mahram-mahram lain selain dari ibu. Seperti kepada kaka perempuan, adik perempuan, bibi, atau saudara perempuan sepersusuan.

Imam Maliki, Syafi’ie dan Abu Hanifah berpendapat; bahwa penyerupaan istri dengan mahram selain dari ibu itu menjadi zhihar sekalipun penyerupaannya dengan mahram dari sepersusuan. Imam Ahmad menegaskan “sesungguhnya penyerupaan istri dengan mahram selain dari ibu adalah zhihar”.

Pengharaman penyerupaan kepada mahram selain dari ibu, berdasarkan qiyas dimana yang menjadi ‘Illatnya adalah pengharaman yang abadi , dan pengharaman yang abadi ini hanya ada pada mahram.

Penjelasan ini masih menyisakan satu pertanyaan, bagaimana bila suami yang memanggil istrinya dengan sebutan ibu, mamah, Ummi, dan sebagainya. tidak diniatkan untuk zhihar?? jawaban dalam masalah ini adalah. bahwa ungkapan zhihar sama dengan ungkapan pada akad-akad muamalah yang lain; sepeti jual jual beli, nikah, cerai, dan sebagainya. disini yang dilihat bukan niatnya tetapi apa yang diucapkan. sehingga walau tidak diniatkan zhihar tetapi ucapannya adalah ucapan zhihar, maka hal tersebut jatuh kedalam zhihar.

Suami yang telah menzhihar istrinya haram, haram menyetubuhi istrinya sebelum dia membayar kifarat (Denda). Hal ini berdasarlam ayat”Dan orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan maka (wajib atasnya) memerdekakan orang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur” (Al-Mujadalah: 3). Juga hadist Nabi Saw dari Ibnu Abbas “Sesungguhnya seorang menzhihar istrinya, kemudian dia mencampurinya, kemudian dia datang menghadap Rasulullah SAW seraya berkata “Sesungguhnya saya sudah mencampuri Istri saya sebelum saya kifarat. Rasulullah SAW bersabda “janganlah kamu dekati dia (menyetubuhi istrinya). Sehingga melaksanakan apa yang telah Allah perintahkan”.(HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Annasa’ie dan Ibnu Majah).

Kifarat (Denda) Bagi Suami yang Menzhihar Istrinya

Suami yang menzhihar Istrinya, maka dia wajib menbayar kifarat (Denda) sebelum dia bercampur  dengan Istrinya. Sebagaiman yang termaktub dalam surat Al-Mujadalah. Allah SWT Berfirman “Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa (wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi orang kafir ada siksaan yang sangat pedih” (QS. Al-Mujadalah: 3-4).

Dan juga hadist Nabi SAW “Dari Salamah bin Shakhr al-Bayadhl bercerita, Dahulu aku adalah laki-laki yang mempunyai hasrat besar kepada wanita tidak seperti kebanyakan orang. Ketika tiba bulan Ramadhan, aku pernah menzhihar isteriku hingga bulan Ramadhan berakhir. Pada suatu malam tatkala ia berbincang-bindang denganku, tiba-tiba tersingkaplah kepadaku kain yang menutupi sebagian dari anggota tubuhnya maka akupun melompatinya lalu kucampuri ia. Dan pada pagi harinya aku pergi menemui kaumku lalu aku memberitahukan mengenai diriku kepada mereka. Aku berkata kepada mereka, ”Tanyakanlah kepada Rasulullah saw. mengenai persoalan ini. Maka jawab mereka,  ’kami tidak mau. Kami khawatir jangan-jangan ada wahyu yang turun mengenai kita atau Rasulullah saw bersabda tentang sesuatu mengenai diri kita sehingga tercela selamanya. Tetapi nanti akan kamu serahkan sepenuhnya kepadamu persoalan ini. Pergilah dan sebutkanlah urusanmu itu kepada Rasulullah saw. ”Maka akupun langsung berangkat menghadap Nabi saw. kemudian aku utarakan hal tersebut kepada Beliau. Maka Beliau saw bertanya ”Apakah benar kamu melakukan hal itu?” Saya jawab ”Ya, dan inilah supaya Rasulullah aku akan sabar dan tabah menghadapi putusan Allah atas diriku,” Sabda Beliau ”Merdekakanlah seorang budak.” Saya jawab, ”Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan membawa yang haq, aku tidak pernah memiliki (seorang budak) kecuali diriku ini.” Sabda Beliau, ”Kalau begitu puasalah dua bulan berturut-turut.” Saya jawab, ”Ya Rasulullah, bukankah cobaan yang telah menimpaku ini terjadi ketika aku sedang berpuasa”, Sabda Beliau, ”Kalau begitu bershadaqahlah, atau berilah makan kepada enam puluh orang miskin.” Saya jawab, ”Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan membawa yang Haq sesungguhnya kami telah menginap semalam (tatkala terjadi perselisihan itu sedang kami akan makan malam. ’Maka sabda Beliau ”Pergilah kamu kepada siapa saja yang akan bershadaqah dari Bani Zuraiq. Kemudian katakanlah kepada mereka supaya memberikannya kepadamu. Lalu (dari shadaqah itu) berilah makan enam puluh orang miskin, dan selebihnya gunakanlah (untuk dirimu dan keluargamu).”(Shahih: Shahih Ibnu Majah no:1677, Ibnu Majah I : 665 no:2062 dan ’Aunul Ma’bud VI:298 no:2198, Tirmidzi II:335 no:1215 secara ringkas).

Selesai dengan ijin Allah pada tanggal 9 rajab 1430.

Hamba Allah Yang Faqir Saif Muhammad Al-Amrin

About these ads

28 thoughts on “HUKUM SEPUTAR ZHIHAR (Larangan Memanggil Ummi atau Ibu Kepada Istri)

  1. 'Af

    Ustadz, dtlsn antm mengtkn dgn niat appn tp jk t’lfz kt zhihar mk ttp tdk dp’blhkan. Lalu bgmn dgn org tua yg menggnkn sbtn abi/ummi dlm rgka mengjr ank2 mrk yg msh kcl agr mmdhkn memanggl k2 org tuanya? Krn hal tsb srg sy dgr dilgkgn sy. Bbrp org yg sy tny, ktx blh tp sy blm m’dptkn dll ttg kbolehn tsb. Syukron wa jzk khoir ats jwbnnya.

    mendidik dan mengajarkan anak untuk memanggil ayah atau ibu adalah membiasakan anak ke ibunya untuk memanggil ibu. sedangkan ayah kalau mau memanggil ibu haru dengan nama anaknya; contoh ibu fatimah atau ummu fatimah dsb.

    dikalangan keluarga saya tidak ada yang memanggil ibu atau umi kepada istrinya tetapi semua anak-anaknya memanggil ibu atau umi kepada ibunya. itu semua tergantung bagaimana kita membiasakannya kepada anak.

    • beny

      Mengenai panggilan yang bukan bertujuan untuk dhihar, ada hal yang mau saya tanyakan:
      1. لاَّيُؤَاخِذُكُمُ اللهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ حَلِيمُُ {225}

      “Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksudkan (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.” (Al-Baqarah: 225). Apakah ayat ini tidak dapat dijadikan dalil bahwasanya kata “ummi” yang tidak ada maksud untuk menyamakan dengan ibu, tidaklah termasuk dalam perkara dhihar?
      2. Hadits larangan memanggil istri dengan kata ukhti pernah saya baca bahwa hadits tersebut lemah, disamping itu bukankah Allah dan Nabi mengunakan kata “ikhwah” untuk sesama mukmin dan kata “akhul” untuk sesama muslim, salahkah kalo kita menggunakan panggilan tersebut kepada sesama mukmin/muslim termasuk istri atau kawan kita?
      demikian, terima kasih jawabannya

    • Nunung, ana setuju dengan anti, Tergantung niyat. Lhawong kita nyebut abi pada suami juga bukan niat pada bapak kita. Dan Ataupun sebaliknya, umi yang di pakai suami untuk panggilan kita bukan niat panggilan seperti ibu suami.

  2. suhaida

    adakah bermaksud jika seorang suami memanggil isterinye dgn panggilan ibu,umi,mak,mama..same dgn hkum zihar??bkn kah hkum zihar ni bdasarkan persamaan tbuh isteri dan ibu kpd suami..mintak diperjelaskan ye..terima kasih…

    • saif1924

      zihar itu menyamakan istri dengan ibu..bukan saja menyamakan istri dengan bentuk tubuh ibunya tetapi berkaitan juga dengan masakannya, rupanya, perangainya termasuk juga panggilannya.

      • Masyitoh

        Ustd tolong ungkapkn hadist yang menyamakn istri itu bahkan dr masaknnya trmasuk dzihar? benar tu? apa semua kajian hadist dan tafsirnya sperti itu? ingt Allh itu tau yg trsurat bahkan trsirat< bima fisshudhur….trus kalu manggil abi/umi tdk diniatkn ke org tua apa jg Allh mengategorikan dzihar<<<ah ekstrim amaat,,,,

      • nur

        kalau sampai ke masakannya belum pernah ana dengar tadz dari guru ana, hanya organ tubuh.
        kalau untuk panggilan prakteknya menurut guru ngaji saya begini, ketika anak2 kita masih kecil dan masih ikut ikutan bilang apa yang dibilang orang tua nya dalam memanggil, maka ketika di depan anak seperti itu memanggil istri harus dengan panggilan ummi dan sejenisnya dan memanggil suami harus dengan abi dan sejenisnya. karena banyak kejadian ketika istri memanggil suaminya dengan sebutan aa (sunda) mas (jawa) maka maka ketika anak yg masih tuturut itu mengikuti panggilan orang tuanya, sama bapaknya manggil aa atau mas itu karena ibu nya manggil kepada suami dengan panggilan itu.
        tetapi apabila anak2 sudah faham akan makna panggilan maka panggilan kepada istri dan suami harus sebagaimana biasanya seperti sayangku, cintaku, nyai, eneng, dsb. suami jangan panggil ibu kpd istrinya dan begitupun sebaliknya.
        nanti kalau punya anak lagi begitu lagi.
        banyak panggilan2 lain kepada suami/istri yang lebih menandakan cinta dan kasih sayang selain panggilan yang seharusnya anak kita yang mengucapkannya.
        maaf saya menggunakan logika dan fakta

  3. rara

    As salam, maaf skiranyqa pertanyyan ini jauh dari entri,, tapi bagaimanakah keadaannya sekiranya seorang suami berkata kau bukan isteriku lagi,, adakah jatuh talak dan bolehkah dia menyetubuhi isterinya lagi?

    jelas itu adalah talak..dan haram suaminya mencampurinya kembali.sebelum ruju’ kembali bila itu adalah talak roji’i (talak 1)

  4. Zali

    Maf, terus terang saya kurang puas dgn penjelasan sahabat ttg: 1)mengapa zihar tetap berlaku walaupun tanpa niat. sepanjang yang saya baca, peristiwa hukum yg berlaku tanpa ada niat hanya 3. nikah, talak, dan pembebasan Budak. 2) mengapa kasus ini Sama dgn masalah muamalah lain? bukankah Masalah hukum dalam muamalah itu terlalu umum? sehingga kita berfikir dua kali untuk menyamakan masalah jual beli dan masalah munakahat yg keduanya berada dalam lingkup muamalah?, 3) mengapa kasus ini harus dilihat dari perkataannya? bukan dari niat nya? padahal segala sesuatu tergantung pada niat nya menurut hadits.

    Perbuatan itu ada yang harus disertakan niat ada yang tidak..Jual Beli itu berdasarkan akad bukan dengan niat..nikah juga berdasarkan akad bukan dengan niat.. bila akadnya tidak sempurna, maka batal jual beli atau nikahnya. walau niatnya sudah benar. betul ada hadist yang berkaitan dengan niat.tetapi hadist itu berkaitan dengan Hijrah. diaman ada sahabat yang berhijrah karena ingin mengejar kekasihnya. sehingga untuk membedakan mana yang hijrah karena Allah dan tidak ini harus dengan niat. demikian juga dengan shalat harus dengan niat untuk membedakan mana shlat dengan senam atau olah raga

  5. hamba-Mu

    dalam ulasan anda tentang dzihar, anda mengatakan, “Penjelasan ini masih menyisakan satu pertanyaan, bagaimana bila suami yang memanggil istrinya dengan sebutan ibu, mamah, Ummi, dan sebagainya. tidak diniatkan untuk zhihar?? jawaban dalam masalah ini adalah. bahwa ungkapan zhihar sama dengan ungkapan pada akad-akad muamalah yang lain; sepeti jual jual beli, nikah, cerai, dan sebagainya. disini yang dilihat bukan niatnya tetapi apa yang diucapkan. sehingga walau tidak diniatkan zhihar tetapi ucapannya adalah ucapan zhihar, maka hal tersebut jatuh kedalam zhihar”.
    Padahal dalam kaidah usul fiqh disebutkan ” al ‘Ibroh fil ‘uqud lil maqooshid wal ma’aani laa lil alfadz wal mabaani “. ( hukum dalam akad ditinjau berdasar pada maksud dan maknanya tidak terpaku pada lafadz dan kaidahnya).
    Ada juga kaidah yg lain ” Al Umuur bimaqooshidiha ”
    Jadi apakah anda tidak salah dalam menempatkan kaidah tersebut melihat penerapannya pada pernyataan anda ?

    sama sekali tidak salah saya mengaitkan. karena nikah dan muamalah adalah perbuatan badaniah bukan batiniah..dia berdasarkan ungkapan atau perbuatan yang ada bukan berdasarkan niatnya..seorang menikah bila akadnya salah, maka nikahnya batal walau niatnya benar.

  6. Aslm ustadz,gmn dgn laki2 yg mngatakan bahwa suara istrinya seperti suara k2k kandungnya? Apakh itu disebut zihar jg? Wslm

    sebagian ulama mengatakan itu zhihar sebagaian lagi tidak..untuk kehati-hatian..sebaiknya jangan ucapkan seperti itu

  7. iin

    apakah haram hukumnya apabila anak memanggil bunda pada ibunya..
    Ada yg bilang bunda kata yg berbau kristen karena mirip bunda maria..

    sama sekali tidak haram..boleh..bunda itu bukan berbau kristen justru bunda itu adalah bahasa melayu asli untuk memanggil orang tua..jadi boleh anak memanggil bunda kepada ibunya

  8. kim

    ustad..jika calon suami berkata kepada calon istrinya ” kau seperti ibuku “. mungkin calon suami merasa wanita calon istrinya mengingatkannnya pada sosok ibunya .
    hukumnya gimana ustad.
    gak papa kan kalau mereka menikah nanti
    mohon dijawab ya ustad .

    LArangang zhihar itu kpd yang sudah menikah..kalau sudah menikah maka dilarang melontarkan kata-kata seperti itu. tetapi kalau belum. itu boleh saja.

  9. Ustad, apa sih arti sebenarnya dari kata “yuzhohirun”. karena menurut saya ada makna yang lebih dalam dari sekedar menyamakan istri dengan ibu. Terima kasih

  10. saya spakt…bhwa memanggil isteri dg panggilan mama,mami,umi, atau apapun bntuknya yg seyogyanya panggilan itu utk dipakai dlm panggilan ibu qta adalah zhihar…sederhana saja…umat islam itu pnya 2 pegangan utama yaitu qur’an dan hadist ditambah dg ijtihat…nahh…bgi yg tdk setuju tlg cri satu sja hadist yg pernh mngatakan atau menceritakan bhwa adakah pernah rosulullh saw memanggil isteri-isterinya dg panggilan umi atau sebagainya yg mirip sprt cara seorang anak memanggil ibunya???

  11. Assalamuallaikum wr wb, saya sering mendegar hal ini dari sang suami,dia berkata ”haram hukumnya kalau suami memanggil istri dengan panggilan umi,ibu atau mama dan sebagainya…tapi yg saya tidak habis pikir malah para ustad yg sangat mengerti akan Al qur’an dan hadist merekala yg memanggil istri2 mereka mama ibu atau umi..maaf seperti Yusup mansur, ustad Uje dan lain2nya,,saya bingung ???

  12. saidul kaokabi

    Hukum Memanggil Isteri atau Suami dengan Ibu atau Ayah
    April 4, 2012 Muslimah Kaffah Tinggalkan Komentar Go to comments

    Rate This

    Assalamu’alaykum ustadz..

    Apa hukumnya memanggil suami/istri dengan sebutan papah/mamah atau umi/abi atau yan sejenis dg itu? Karena saya pernah mendengar bahwa itu dihukumi menyamakan suami/istri dg orang tua, sehingga konsekuensinya seperti berzina dengan orang tua? Bagaimana sunnah mengajarkan etika memanggil pasangan?

    Ummu Fatih
    Jawaban

    Waalaikumussalam Wr Wb

    Ummu Fatih yang dimuliakan Allah swt

    Pertama :

    Perkataan seorang suami kepada istrinya : kamu ummi (ibuku) atau ukhti (saudara perempuanku) atau ya mama mengandung zihar akan tetapi terjadi atau tidaknya zihar tersebut tergantung dari niatnya, berdasarkan sabda Rasulullah saw,”Sesungguhnya amal tergantung dari niat dan tiap-tiap orang tergantung dari apa yang dia niatkan” Muttafaq alaihi

    Pada umunya seorang suami mengatakan seperti kata-kata diatas umtuk sebuah kelembutan atau penghargaan sehingga tidak terkategorikan sebuah zihar yang menjadikan istrinya haram bagi suaminya.

    Ibnu Qudamah –semoga Allah merahmatinya—didalam kitab “al Mughni (8/6)—mengatakan,”Apabila seseorang mengatakan : Kamu bagai ummi atau seperti ummi dan jika ia meniatkan zihar maka terjadi zihar maka ia adalah zihar, menurut pendapat kebanyakan ulama. Sedangkan jika dia meniatkan sebuah kemuliaan dan penghargaan maka ia bukanlah zihar walaupun seseorang mengatakan : kamu ummi atau istriku ummi.”

    Al Lajnah ad Daimah pernah ditanya tentang perkataan sebagian orang kepada istrinya,”Aku saudara lelakimu, kamu saudara perempuanku, maka apa hukumnya?”

    Al Lajnah menjawab, ”Apabila seorang suami mengatakan kepada istrinya kamu ukhti, atau kamu ummi atau seperti ummi, atau kamu disisiku seperti ummi atau seperti ukhti maka jika dia menginginkan dengan perkataannya itu seperti apa yang disebutkannya berupa kemuliaan atau adanya hubungan dan kebaikan atau penghormatan atau tidak ada padanya niat atau bukti-bukti yang menunjukkan keinginannya untuk zhihar maka apa yang dikatakannya itu bukanlah zhihar dan tidak dikenakan apa-apa terhadapnya.

    Akan tetapi, apabila dengan kata-kata itu atau sejenisnya menginginkan zhihar atau terdapat bukti yang menunjukkan adanya zhihar seperti munculnya kata-kata marah atau murka terhadapnya maka ia adalah zhihar yang diharamkan dan diharuskan baginya bertaubat serta kafarat sebelum dia mencampurinya berupa membebaskan budak. Sedang jika dia tidak mendapatkannya maka diharuskan baginya berpuasa selama dua bulan berturut-turut. Dan jika dia tidak menyanggupinya maka diharuskan baginya memberi makan enam puluh orang. (al Lajnah ad Daimah 20/274)

    Kedua :

    Sebagian ulama memakruhkan perkataan seorang suami kepada istrinya “Ya Mama atau ya Ukhti.” Berdasarkan riwayat Abu Daud (2210) bahwa seorang lelaki mengatakan kepada istrinya : Ya saudara perempuanku, maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Saudara perempuanmu kah dia! Beliau pun tidak menyukainya dan melarangnya.”

    Yang benar adalah bahwa hal itu tidaklah makruh karena hadits tersebut tidaklah shahih dan telah dilemahkan oleh al Albani didalam “Dhaif Abu Daud”.

    Syeikh Ibnu ‘Utsaimin—semoga Allah merahmatinya—pernah ditanya : Apakah dibolehkan bagi seorang suami mengatkan kepada istrinya ‘Ya Ukhti” dengan maksud cinta saja atau “Ya Ummi” dengan maksud cinta semata.

    Beliau menjawab,”Ya, dibolehkan bagi seorang suami mengatakan kepadua istrinya : wahai Ukhti atau wahai Ummi atau kata-kata serupa yang menunjukkan rasa sayang dan cinta walaupun sebagian ahli ilmu memakruhkan perkataan suami kepada istrinya dengan ungkapan-ungkapan demikian. Akan tetapi tidaklah ada alasan memakruhkannya karena sesungguhnya amal perbuatan tergantung dari niatnya. Sementara lelaki itu tidaklah meniatkan dengan kata-kata itu bahwa istrinya adalah saudara perempuannya yang diharamkan karena mahramnya. Sesungguhnya ia mengatakan demikian dengan maksud sayang dan cinta kepadanya. Dan segala sesuatu yang menjadi sebab kecintaan diantara suami istri baik yang keluar dari suami maupun istri maka hal itu adalah perkara yang dituntut.” (Fatawa Barnamij Nuur ‘ala ad Darbi” – (Fatawa Sual wa Jawab No. 83386)

    Sebagaimana penjelasan diatas bahwa hendaklah panggilan seorang suami terhadap istrinya atau sebaliknya adalah panggilan yang berisi penghormatan atau penghargaan yang dengannya bisa saling menguatkan perasaan cinta dan sayang diantara mereka berdua.

    Seperti panggilan Rasulullah shalalllahu ‘alahi wa sallam terhadap istrinya dengan sebutan “wahai Humairo” (Yang kemerah-kemerahan), sebagaimana disebutkan didalam beberapa haditsnya, diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Aisyah bahwa Rasulullah bersabda,” Beliau menjawab: “Wahai Humaira, barangsiapa memberi api seakan-akan ia telah bersedekah dengan semua yang telah dimatangkan oleh api itu, barangsiapa memberi garam, seakan-akan ia telah bersedekah dengan semua yang telah dibuat nikmat oleh garam itu, barangsiapa memberi minum seorang muslim satu teguk saat ia mendapatkan air, seakan-akan ia telah membebaskan seorang budak, dan barangsiapa memberi minum seorang muslim satu teguk saat ia tidak mendapatkan air, maka seakan-akan ia telah menghidupkannya.”

    Meskipun hadits diatas atau hadits-hadits lainnya yang berisi panggilan Rasulullah shalallahu ‘alaihi terhadap istrinya dengan “Wahai Humairo” adalah lemah, sebagaimana disebutkan Syeikh al Albani didalam kitab “as Silsilah adh Dhaifah” namun secara makna panggilan tersebut dapat menyenangkan hati istri dan mengeratkan cinta dan sayang diantara suami istri.

    Wallahu A’lam

    eramuslim

  13. ustadz…lau suami pda suatu saat…memanggil istrinya dengan nama ibu mertua atau adik dari ibu mertua…hukumnya gimana? apakah tetap zhihar?…trima kasih atas jawabannya..

    • Yetty Anjum

      Sebenarnya saya sering dengar bahkan Yg memanggil sebutan mama/papa, umi/abi atau ayah/bunda terhadap Istri/suami itu adalah para ustadz, misslnya ustadz Yusuf mansur, almarhum ustadz jefri dan lainya… Pertanyaan saya, mengapa mereka masih memanggil sebutan tersebut pada Istri and suami mereka sedangkan mereka lebih paham tentang agama?

      Jazakillah khairan kasitrun ustadz.

      Wassallam Yetty.

      Sent from my iPhone

      >

  14. ina

    bagaimana kalau seorang istri yang membandingkan suaminya dengan ayah dari pihak isrti/
    apakah tergolong zihar atau tidak?
    adakah hukumnya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s