HUKUM ONANI

           Pada dasarnya, perbuatan onani itu mirip dengan ‘azl, dari sisi sama-sama menumpahkan sperma di luar rahim. 

          Para ‘ulama berbeda pendapat dalam menetapkan hukum ‘azl.  Sebagian ulama, yakni kalangan madzhab Dzahiri mengharamkan ‘azl secara mutlak.  Mereka berdalih dengan sebuah hadits riwayat Judzamah binti Wahab, bahwa ada beberapa orang bertanya kepada Rasulullah saw tentang ‘azl, beliau saw menjawab:

          Yang demikian itu adalah penguburan bayi hidup-hidup secara samar.”[HR. Imam Ahmad dan Muslim]

          Namun demikian, Imam Ghazali menyanggah pendapat mereka, dan berkata, “Ada beberapa riwayat shahih yang membolehkan ‘azl”.  Adapun maksud sabda Rasulullah saw,”..adapun demikian itu adalah penguburan bayi hidup-hidup secara samar,” sama dengan sabda Rasulullah saw, “sebagai syirik yang samar.”  Oleh karena itu, hukum ‘azl adalah makruh, bukan haram.  Yang dimaksud dengan makruh di sini –menurut al-Ghazali—adalah sesuatu yang menyalahi kebiasaan yang baik. 

          Sebagian ‘ulama dari Madzhab Hanafi membolehkan ‘azl diperbolehkan (mubah) jika isterinya menyetujui, dan makruh jika isteri tidak memberikan persetujuannya. [Imam Syaukani, Nail al-Authar, juz 6/322].  Sedangkan Imam Syafi’iy berpendapat, bahwa ‘azl boleh dilakukan meskipun tidak diijinkan oleh isteri.

          ‘Ulama-ulama lain, dari kalangan shahabat, misalnya, Sa’ad bin Abi Waqqash, Ibnu ;Abbas, ‘Umar , dan Ali ra membolehkan ‘azl dan menganggapnya bukan sebagai penguburan janin.   Sedangkan para ulama madzhab yang membolehkan ‘azl adalah Imam Syafi’I, Imam Malik, dan lain sebagainya.

          Adapun riwayat-riwayat yang membolehkan ‘azl adalah sebagai berikut; dari Jabir ra dituturkan, bahwasanya ia berkata:

كُنَّا نَعْزِلُ وَالْقُرْآنُ يَنْزِلُ وَعَنْ عَمْرٍو عَنْ عَطَاءٍ عَنْ جَابِرٍ قَالَ كُنَّا نَعْزِلُ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْقُرْآنُ يَنْزِلُ

         

Kami melakukan ‘azl di masa Rasulullah saw, sedangkan al-Quran masih turun.”[HR. Imam Bukhari dan Muslim]

          Imam Muslim juga meriwaykan sebuah hadits, dari Jabir bin ‘Abdullah, bahwasanya ia berkata:

 

كُنَّا نَعْزِلُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَلَغَ ذَلِكَ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَنْهَنَا

 

Kami melakukan ‘azl di masa Rasulullah saw.  Lalu, kami menyampaikan hal itu kepada Nabi saw, dan beliau tidak melarangnya.”[HR. Muslim]

          Imam Turmudziy juga mengetengahkan sebuah riwayat dari Jabir bin ‘Abdullah, bahwasanya ia berkata, ”

 

قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا نَعْزِلُ فَزَعَمَتْ الْيَهُودُ أَنَّهَا الْمَوْءُودَةُ الصُّغْرَى فَقَالَ كَذَبَتْ الْيَهُودُ إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَخْلُقَهُ فَلَمْ يَمْنَعْهُ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ عُمَرَ وَالْبَرَاءِ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ

 

Kami mengatakan kepada Rasulullah saw, bahwa kami melakukan ‘azl, dan orang-orang Yahudi menganggapnya sebagai penguburan bayi hidup-hidup.  Kemudian beliau saw berkata, “Orang-orang Yahudi itu telah berbohong, sesungguhnya jika Allah hendak menciptakannya, maka Ia tidak akan mencegahnya.” Hadits semacam ini juga diriwayatkan oleh ‘Umar, al-Bara’, Abu Hurairah, dan Abu Sa’iid.

          Pensyarah Sunan Turmudziy, Imam Mubarakfuriy menyatakan, “Hadits ini adalah menjadi dalil bagi ‘ulama yang membolehkan ‘azl.”[Imam Mubarakfuriy, Tufhat al-Ahwadziy, hadits no.1055].

Tarjih Terhadap Dalil

Memang, ada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad yang bersumber dari Jadzîmah binti Wahab al-Asadiyyah yang melarang ‘azl.:

 

Rasulullah saw. pernah hadir di tengah-tengah orang banyak seraya bersabda, “Sungguh, aku pernah berkeinginan untuk melarang ghîlah (menggauli istri yang masih dalam masa menyusui anaknya). Aku kemudian mengamati orang-orang Persia dan Romawi, ternyata mereka pun melakukan ghîlah, tetapi toh hal itu tidak membahayakan anak-anak mereka sama sekali.”

Para sahabat kemudian bertanya tentang masalah ‘azl. Beliau kemudian menjawab, “‘Azl adalah tindakan pembunuhan secara samar. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah: Jika bayi-bayi wanita yang dikubur hidup-hidup itu ditanya. (QS at-Takwîr [81]: 8).”

 

Hadis ini bertentangan dengan sejumlah hadis sahih lain yang secara gamblang membolehkan ‘azl. Dalam hal ini, jika ada hadis yang bertentangan dengan hadis-hadis lain yang lebih banyak, maka hadis-hadis yang banyak itulah yang lebih râjih (lebih valid) dibandingkan dengan yang sedikit. Atas dasar ini, hadis yang bersumber dari Jadzîmah binti Wahab al-Asadiyyah tersebut tertolak, karena bertentangan dengan bebarapa hadis lain yang lebih kuat dan lebih banyak jalur periwayatannya.

Tidak juga bisa dikatakan bahwa dengan metode penggabungan (tharîq al-jam‘i) antara hadis tersebut dengan hadis-hadis yang membolehkan ‘azl, hadis tersebut berarti menunjukkan pada makruhnya ‘azl.

Metode penggabungan hadis hanya mungkin dilakukan jika tidak ada kontradiksi—yakni berupa penolakan Rasulullah saw. yang terdapat dalam hadis lain—dengan pengertian yang sama yang ditunjukkan oleh hadis tersebut. (Artinya, terdapat penolakan Rasulullah pada hadis kedua, sedangkan dalam beberapa hadis lainnya larangan itu tidak ditemukan, pen). Sebab, hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abû Dâwud yang bersumber dari Abû Sa‘îd bunyinya adalah demikian:

 

“Sesungguhnya orang-orang Yahudi menyatakan bahwa ‘azl adalah tindakan pembunuhan keci.”  Beliau kemudian menjawab, “Orang-orang Yahudi itu telah berdusta.”

 

Sementara itu, hadis Jadzîmah berbunyi demikian:

 

“‘Azl adalah tindakan pembunuhan secara samar. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah: Jika bayi-bayi wanita yang dikubur hidup-hidup itu ditanya. (QS at-Takwîr [81]: 8).”

 

Dengan demikian, upaya penggabungan kedua hadis ini tidak mungkin dilakukan. Boleh jadi, salah satu hadis di atas sudah dihapus (mansûkh) atau salah satunya lebih kuat sehingga hadis lain yang lebih lemah tertolak. Hanya saja, sejarah kedua hadis itu tidak cukup dikenal. Sementara itu, hadis yang dituturkan oleh Abû Sa‘îd didukung oleh sejumlah hadis lain yang cukup banyak, sedangkan hadis yang dituturkan oleh Jadzîmah hanya satu, tidak diperkuat oleh hadis-hadis lain. Oleh karena itu, hadis yang dituturkan oleh Jadzîmah adalah tertolak, sementara hadis lain yang lebih kuat ketimbang hadis tersebut dipandang lebih râjih (lebih valid).

Walhasil, secara mutlak, ‘azl dibolehkan, bukan sesuatu yang makruh; apa pun motif atau tujuan orang melakukannya. Sebab, dalil-dalil tentang kebolehan ‘azl sifatnya umum. Seorang suami yang ingin melakukan ‘azl tidak perlu meminta izin istrinya, karena perkara ini bergantung pada suami, bukan pada istri. Dalam hal ini, tidak dapat dikatakan bahwa, karena persetubuhan (jima’) sesungguhnya adalah juga hak seorang istri, maka air mani (sperma) menjadi hak istri, sehingga suami tidak boleh menumpahkan spermanya di luar vagina istrinya tanpa seizinnya. Kesimpulan semacam ini didasarkan pada upaya mencari ‘illat dengan metode rasionalisasi (‘illat ‘aqliyyah), bukan didasarkan pada metode syar‘î, sehingga tidak memiliki nilai apa-apa, bahkan tertolak. Memang benar, jima’ merupakan hak istri, tetapi penumpahan air mani bukanlah haknya. Salah satu alasannya adalah bahwa, seorang suami yang impoten, jika memang telah berusaha menyetubuhi istrinya, tetapi spermanya tidak dapat terpancar, maka hak istri dianggap telah terpenuhi dengan telah terjadinya persetubuhan tersebut. Dalam keadaan seperti ini, istri tidak berhak untuk melakukan faskh (membatalkan pernikahannya).

Memang, ada juga hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Mâjah yang bersumber dari ‘Umar ibn al-Khaththâb. Ia bertutur demikian:

 

Rasulullah saw. telah melarang ‘azl terhadap wanita merdeka, kecuali dengan izinnya.

 

Hadis ini dha‘îf (lemah), karena dalam rangkaian sanad-nya terdapat Ibn Luhaiah. Ada catatan negatif tentang orang ini.

Walhasil, atas dasar semua ini, hadis-hadis mengenai kebolehan ‘azl tetap bersifat mutlak.

Hukum ‘azl dapat diterapkan pada hukum penggunaan obat (pil KB, misalnya), kondom, atau spiral untuk mencegah kehamilan. Semua ini termasuk perkara yang sama, karena dalil-dalil tentang kebolehan ‘azl relevan dengan tujuan pemakaian alat-alat kontrasepsi. Ini adalah satu masalah di antara sejumlah masalah yang ada. Sebab, hukumnya adalah menyangkut kebolehan seorang suami untuk melakukan upaya pencegahan kehamilan, baik dengan cara melakukan ‘azl atau dengan cara yang lainnya. Dalam hal ini, apa yang telah diperbolehkan bagi seorang suami adalah berlaku juga bagi istrinya, karena hukumnya terkait dengan kebolehan mencegah kehamilan dengan menggunakan sarana (alat)  apa saja.

 

Kesimpulan

.       Hukum ‘azl juga bisa diberlakukan pada konteks onani, jika dipandang sama-sama menumpahkan sperma.   Jika demikian, maka hukum onani adalah boleh secara mutlak tanpa memperhatikan lagi maksud dan tujuan dari onani tersebut, seperti halnya kebolehan ‘azl secara mutlak.  Tidak bisa dinyatakan, bahwa onani bisa melemahkan otak dan jasmani, oleh karena itu ia berhukum makruh.   Tidak bisa dinyatakan seperti itu, sebab, onani tidak terbukti secara medis akan melemahkan otak dan jasmani.     Atas dasar itu, hukum onani tetap mubah secara mutlak.  Wallahu a’lam bi al-shawab

About these ads

19 gagasan untuk “HUKUM ONANI

  1. hendrat 03/02/2009 pukul 5:54 am Reply

    Assalamualaikum wr wb,
    Firman Allah SWT dalam surat 70:29-31
    “…Dan orang orang yang memelihara kemaluannya. kecuali terhadap istri istri mereka…maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang dibalik itu, maka mereka itulah orang orang yang melampaui batas”

    dari sini jelas perintah Allah bahwa hanya kepada Istri saja, kemaluan laki laki diarahkan, baik secara fisik maupun fikiran dalam hati (membayangkan).

    diluar dari itu dosa (melanggar batas aturan yang ditetapkan Allah SWT)

    Ya Allah tunjukan kami yang benar itu benar, yang salah itu salah. dan berikan kami kekuatan utk mengikuti yang benar dan menjauhi yang salah.

    wasalamualaikum wr wb

    • awan 06/08/2012 pukul 7:25 am Reply

      “Barang siapa mencari yang dibalik itu” bukan berarti juga termasuk hal yg melarang onani

  2. baman 20/06/2009 pukul 3:59 pm Reply

    kalo di onanikan sama cewe boleh ???
    pake mulut juga boleh???hahahahaha

  3. el_zaman 21/06/2009 pukul 11:16 pm Reply

    kang baman lucu banget deh……pertanyaannya gak berbobot sh….

  4. Rizal 31/10/2009 pukul 6:23 am Reply

    Maafkan aku atas semua kesalahanku

  5. fefen 29/04/2010 pukul 10:56 pm Reply

    menurut sy sih sama sama koment hendrat. walaupun ada dalil yg menunjukan hal ter sebut boleh akan tetapi jika ada ketentuan yg lebih baik maka kewajiban kita mengarahkan diri pada kebaikan itu. sama halnya dengan hukum gambar… awalnya mubah (termasuk gambar porno) akan tetapi jika hal tersebut menjadikan kita berbuat maksiat mka adanya gambar td menjadi harom juga

    Hanya kepada Allah kita berlindunng

  6. hana 09/07/2010 pukul 3:46 am Reply

    tulisan ini menyajikan bagaimana cara menggali hukum dari suatu perbuatan berdasarkan dalil – dalil yang ada, dan itu akan menjadi hukum asal dari perbuatan tersebut, kalo kemudian ada efek negatif dari hukum asal tersebut maka ini tidak akan mengubah status hukum asal yang mubah menjadi haram, tetapi akan dihukumi pada individu yang melakukan perbuatan maksiat tersebut. semoga Allah menerangkan cahaya kebenaran untuk kita dan menutup pintu kebatilan sehingga kita selalu tertunjuki pada jalanNya. Amin

  7. abu ibrahiem 31/03/2011 pukul 12:40 am Reply

    tulisan yg sangat bgus, yg tanpa banyak qiyas dan istimbath yg benar tanpa hawa nafsu…

    Bagi yg tidak setuju, saya mau bertanya: Apa uqubat bagi yg melakukan onani itu? Silahkan jawab dengan dalil2 syar’i….

    • adi 28/04/2011 pukul 12:42 am Reply

      Coba aja anda bilang ke ibu antum atau ke bapak antum atau ke guru antum .. “saya abis onani pak..”
      Apakah antum mau? ataukah Antum akan malu berat..

      jika antum tidak merasa malu berarti hati antum sudah keras.
      jika malu berat maka itulah dosa.

      • hamdani 27/04/2013 pukul 5:30 pm

        logika yg dangkal..
        saya juga malu berat kalau ada yg tau saya selesai berhubungan badan dengan istri. berarti berhubungan badan dengan istri = dosa???

  8. syauqani 16/05/2011 pukul 12:39 pm Reply

    benar juga….., klo blum kawin onani apa hukumnya?. apa sama aja, mohon penjlasan

  9. ramdan 25/11/2011 pukul 6:12 am Reply

    tidak akan bisa mengeluarkan sperma ketika onani kecuali dengan mengkhayalkan wanita. jadi hukum mengkhayal bersetubuh dengan tetangga juga boleh ya?
    Menyamakan Azl dengan onani merupakan qiya bathil. Azl itu menumpahkan sperma ketika berhubungan intim dengan istri. kalo onani berhubungan intim dengan tangan, guling, dan lain2.
    Rasul, sahabat, dan orang2 shaleh gak pernah onani. Ikutilah kebajikan mereka…

    • awan 06/08/2012 pukul 7:35 am Reply

      kan semua balik ke niat

  10. dieto33 09/12/2011 pukul 2:40 pm Reply

    Hmmm…..
    sebaiknya ditinggalkan aja deh…. kecuali klo memang bener bener gak kuat nahan sih… :D
    dan lagi keseringan onani kata dokter Boyke bisa menyebabkan ED [baca: edi] Ejakulasi Dini….
    Mau…???

  11. santros 19/12/2011 pukul 3:09 pm Reply

    klo kita bacara uqubat mungkin tidak ada….. tapi tetap tetap berdosa….. sama halnya kita tidak solat, apa uqubatnya….. ga’ ada kan …… tapi dosa besar…… dalilnya di kitab fikih dijelaskan tidak diperbolehkan mengeluarkan air sperma dengan tangannya sendiri….. boleh asalkan dengan tangan istera atau budak perempuannya…….

  12. Inang zainal el-madury 24/07/2012 pukul 1:14 am Reply

    assalamu’alaikum wr wb,

    Afwan sbelumnya
    Bagaimana kabarnya akhi, salam ukhuwah.
    Semoga ramadhan ini, menjadikan kita mulia dihadapan Allah SWT dengan mengisi aktifitas-aktifitas mulia..amin

    Sekalipun antara onani dan ‘azl mempunyai kesamaan dari sisi menumpahkan sperma diluar rahim, namun bukan lantas mutlak sama sehingga diberlakukan sama antara keduanya.

    ‘azl sebagaimana antum paparkan beserta hujjah diatas adalah ditujukan kepada seorang suami yang yang saat melakukan hubungan badan dengan istri, sperma-nya tidak ditumpahkan ke dalam rahim istri . Pihak suami mencabut setelah memasukkan (kemaluannya) untuk mengeluarkan mani di luar vagina.
    Terkait ini memang terjadi perbedaan pendapat dikalangan ulama mengenai status hukumnya , ada yang membolehkan ada pula yang mengharamkan perbuatan tersebut . sebagaimana sudah dijelaskan dalam tulisan diatas.

    Adapun terkait onani, tentu onani jauh lebih komplek dari ‘azl. Onani lebih sering dinamakan ‘aadah sirriyyah (kebiasaan rahasia) dan dinamakan pula istimna` . Hal ini karena onani dalam pengertiannya tidak dalam posisi sebagaimana ‘azl (melakukan hubungan suami istri) , Tetapi sebuah upaya pemuasan seksual secara pribadi hingga keluar sperma-nya dengan tanpa hubungan suami istri . Onani bisa dilakukan oleh seorang suami yang sudah beristri, namun juga lebih banyak kita temukan dilakukan oleh seseorang yang masih sendiri .

    Melihat fakta seperti itu, tentu sangat tidak tepat menghukumi onani secara mutlak sama dengan ‘azl . Menurut pendapat mayoritas ulama (madzhab Syafi’i ,Maliky) hukumnya adalah HARAM, Argumentasi mereka akan pengharaman onani ini adalah bahwa Allah swt telah memerintahkan untuk menjaga kemaluan dalam segala kondisi kecuali terhadap istri dan budak perempuannya. Apabila seseorang tidak melakukannya terhadap kedua orang itu kemudian melakukan onani maka ia termasuk kedalam golongan orang-orang yang melampaui batas-batas dari apa yang telah dihalalkan Allah bagi mereka dan beralih kepada apa-apa yang diharamkan-Nya atas mereka.
    Firman Allah SWT

    وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ ﴿٥
    إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ ﴿٦
    فَمَنِ ابْتَغَى وَرَاء ذَلِكَ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ ﴿٧

    “… dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, * kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. * Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas”. (QS. al-Mu’minun:5-7)

    al-’Adiy adalah orang zalim yang melampaui batas-batas Allah subhanahu wa ta’ala. Maka Allah subhanahu wa ta’ala mengabarkan bahwa orang yang melampaui jima’ kepada istri dan jima’ sirriyah maka ia adalah orang yang melampaui batas. Dan tidak diragukan lagi bahwa onani keluar dari hal itu.

    Mazhab Hanafi dan Hambali pun mengHARAMkan. Hanya saja dalam posisi-posisi tertentu , Ulama tersebut membolehkan , jika dalam kondisi tertentu onani bisa menyelamatkn diri dari perbuatan zina . Bukan hukum dari perbuatan onani itu sendiri .

    Wallahu a’lam bishawab .

    Inang zainal el-madury

  13. kanalikuli 29/08/2012 pukul 3:21 pm Reply

    Tinggalkan swtu yang byk mgndung mudharat. Nikahkan nikmat. Rezekiny btambah. Ad yng mngtkan dkala lpa. Ibadah lgi. So g ush d rbutkan la.

  14. Novi Harianto Masan 28/12/2013 pukul 10:58 am Reply

    Sabda Rasulullah S.A.W. yang bermaksud: Ada tujuh golongan manusia yang Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat dan tidak membersihkan mereka dari dosa bahkan Allah berfirman kepada mereka: Masuklah kamu ke dalam neraka bersama orang- orang yang dimasukkan ke dalamnya. Tujuh golongan tersebut ialah : 1). Orang yang melakukan homoseks. 2). Orang yang melakukan kawin tangan (onani). 3). Orang yang melakukan hubungan seks dengan binatang. 4). Orang yang melakukan hubungan seks melalui dubur (liwat). 5). Orang yang berkawin antara ibu dan anak. 6). Orang yang berzina dengan isteri Tetangga nya. 7). Orang yang menggangu Tetangganya. (Riwayat al-Tabrani). Hadith yang ini pula ialah hadith hasan lizatihi dan al-Hakim menyatakan bahawa hadis ini adalah hadith yang sahih pada sanadnya. Na’udzubillah Mindhzaliq Ya Allah Jauhkan Lah Aku Serta Orang Yang Mengucap “Aamiin”t Dari Golongan Tersebut. Aamiin.

  15. abu fataa al hafidz 07/03/2014 pukul 1:15 am Reply

    bismillah,
    ana mau menanggapi ttg hukum onani,Masalah masturbasi atau onani memang sangat memperhatikan bagi kalangan anak muda khususnya, banyak pakar yang menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut di kalangan pemuda sudah di mulai sejak umaur 9 tahun. Awalnya tentu hanya sekedar memainkan alat kelamin atau sebatas mencoba, sampai akhirnya menjadi sebuah kebiasaan. Tetapi bagaimanapun kebiasaan itu bermula tetap harus di carikan solusinya. Namun terleibih dahulu kita kaji sisi hukumnya dalam pandangan syariat islam yang sempurna ini.

    Allah berfirman dalam QS An nuur ayat : 33 yang artinya ;
    “Dan orang – orang tidak mampu kawin hendaklah menjaga kesucian (diri) nya, sehingga Allah memampukan mereka dengan akruniaNYA.”

    Rasulullah SAW juga bersabda dalam hadis yang di riwayatkan oleh imam bukhori yang artinya ;

    “Wahai kaum muda. Barang siapa yang di antara kalian yang sudah memiliki “ba’ah” atau kemampuan seksual handaknya segera menikah, karna sesungguhnya yang demikian itu lebih dapat memelihara pandangan mata dan kemaluan. Barang siapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa. Sesungguhnya puasa itu adalah obat baginya.

    Berdasarkan kedua dalil tersebut, menunjukan di haramkanya masturbasi atau onani, jika di lakukan hanya untuk memenuhi hawa nafsu, karna Allah memerintahkan kepada orang yang belum menikah untuk senantiasa menjaga kesucianya. Dan syariat tidak menganjurkan masturbasi atau onani sebagai jalan keluarnya, jika belum mampu menikah tetapai syariat islam menganjurkan untuk berpuasa, karna puasa merupakan pelindung atau obat baginya akan masturbasi atau onani hanya diperbolehkan dalam keadaan terpaksa. Dalam kitab “Al mausu’ah Al fiqhiyah” imam Amad bin hanbal berpendapat bahwa masturbasi atau onani haram hukumnya, meskipun di takutkan berzina, karena seseorang masih bias menahan hawa nafsunya dengan berpuasa, tapi tatkala dalam keadaan dzoruroh atau genting, maka masturbasi di bolehkan, sesuatu yang dibolehkan dalam keadaan terpaksa itu dibatasi seminimal mungkin penggunaannya, hal ini sesuai dengan kaidah fiqih:
    مَاأُبِيْحَ لِلضَّرُوْرَةِ يُقَدَرِهَا

    “Sesuatu yang diperbolehkan karena darurat, hanya boleh sekedarnya saja.”

    Dalam lintas Madzhab untuk menyikapi hukum masturbasi atau onani ada beberapa pendapat sesuai dengan metode pemikiran ijtihad masing masing dan tercakup dalam tiga pendapat [1]
    1. Haram
    Pendapat ini di ungkapkan oleh dikemukakan oleh penganut Madzhab Syafi’I, Maliki, dan Zaidiyyah, para madzahib ini mengacu pada Kalam Allah SWT :

    “Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya,kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki; maka mereka sesungguhnya dalam hal ini tiada tercela. Barang siapa mencari yang dibalik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas”. (Al Mu’minun 5-7)

    Dan sabda Rasulullah SAW yang artinya ; [2]

    “Dari Abdullah bin Mas’ud Ra,ia berkata “Rasulullah SAW bersabda: “Wahai generasi muda,barangsiapa diantara kalian sudah siap menjalani hidup berumah tangga maka kawinlah! Sesungguhnya dibalik itu,pandangan mata dan kemaluan akan lebih terjaga dan terpelihara dari perbuatan maksiat. Dan barangsiapa belum mampu,hendaknya berpuasa. Karena dengan puasa itulah dirinya akan terlindungi dari kemaksiatan”. (HR. Bukhari Muslim)

    2. Haram dalam kondisi tertentu dan Wajib dalam kondisi yang lain
    Pendapat ini dikemukakan oleh sebagian pengikut madzhab Hanafiyyah karena berpegang teguh pada kaidah Fiqh “ mencari yang paling ringan dari dua hal yang berbahaya”, sedangkan pendapat pengikut Hanbali ada beberapa fase yang harus dilalui yaitu hukum wajib ini berlaku jika dia tidak melakukan masturbasi atau onani maka akan mengganggu pada kesehatanya atau dia dikhatirkan terjerumus pada lingkaran zina sementara dia belum Menikah dan dia tidak mempunyai biaya untuk menikah.
    3. Hukum Makruh [3]
    Makruh merupakan hukum yang diperbolehkan untuk dikerjakan dan diberikan pahala bagi orang yang melaksanakan, begitu pula hukum masturbasi atau onani menurut ibnu Hazm masturbasi atau onani adalah makruh pendapat beliau ini berdasar pada pemikiran beliau bahwa masturbasi atau onani tidak ubahnya dengan memegang kelamin sedangkan memegang alat fital tidak ada satu ulama’ pun yang mengharamkan dan firman Allah SWT. Surat Al-‘Anam ayat ; 119.

    “Sungguhnya Alloh menjelaskan padamu tentang hal-hal yang diharamkan padamu”

    Menurut Beliau masturbasi atau onani bukanlah termasuk yang diharamkan karena tidak ada ayat yang menjelaskan tentang keharamanya, sementara dalam surat Al-Baqoroh ayat 29 Allah SWT. Berfirman yang artinya ;
    “Dialah Alloh yang menjadiakan semua yang berada dibumi untuk kamu”

    Sedangkan kemakruhan itu bukan dari masturbasi atau onani, akan tetapi disebabkan karena hal ini bukan termasuk akhlak yang mulia.
    4. Boleh [4]
    Hukum yang membolehkan masturbasi atau Onani ini berasal dari pendapat, Al Hasan, Amr bin Dinar ,Ziyad bin Abi Al Ala’,dan mujahid. Al Hasan memberikan penjelasannya mengenai orang laki-laki yang berbuat Msturbasi atau Onani sehingga keluar air maninya, bahwa: “Hal itu juga dilakukan tatkala peperangan”.
    Dari sini dapat diambil suatu kesimpulan,bahwa Al Hasan membolehkan perbuatan masturbasi atau onani berdasarkan yang pernah terjadi di dalam keadaan perang. Artinya perbuatan masturbasi atau onani tersebut diperbolehkan jika dalam keadaan yang sangat terpaksa dan mendesak.
    adapun efek samping dari pada onani atau masturbasi sbb ;
    a. Efek terhadap rohani
    Dapatlah dikatakan bahwa perbuatan masturbasi atau onani adalah suatu kemaksiatan, karna pelaku masturbasi atau onani akan sangat merasa bersalah setelah melakukanya, Bahkan bisa dikatakan sebagai dosa besar jika di lakukan dengan hanya menuruti hawa nafsu. Maka hendaknya setiap muslim mengintropeksi dirinya akan perbuatan maksiat tersebut.
    b. Efek terhadap Kesehatan
    Ahli kedokteran telah menetapkan,bahwa masturbasi atau onani dapat menimbulkan beberapa efek samping,antara lain:
    1. Melemahkan alat kelamin sebagai sarana untuk berhubungan seksual,serta sedikit demi sedikit alat tersebut akan semakin melemah (lemas).
    2. Akan membuat urat-urat tubuh semakin lemah,akibat kerja keras dalam beronani demi untuk mengeluarkan air maninya.
    3. Sangat mempengaruhi perkembangan alat vital,dan mungkin tidak akan tumbuh seperti yang lazimnya.
    4. Alat vital tersebut akan membengkak,sehingga sang pelaku menjadi mudah mengeluarkan air maninya.
    5. Meninggalkan rasa sakit pada sendi tulang punggung,dimana air mani keluar darinya. Dan akibat dari sakitnya itu,punggung akan menjadi bungkuk.
    6. Menyebabkan anggota badan sering merasa gemetaran,seperti di bagian kaki,dsb.
    7. Onani bisa menyebabkan kelenjar otak menjadi lemah,sehingga daya berpikir menjadi semakin berkurang,daya faham menurun,dan daya ingat juga melemah.
    8. Penglihatan semakin berkurang ketajamannya,karena mata tidak lagi normal seperti semula.
    c. Efek kejiwaan dan sosial
    Ahli ilmu jiwa mengatakan: “sebenarnya, pemuda melakukan masturbasi atau beronani itu juga merasakan bahwa dirinya melakukan kesalahan,dia pun tahu bahwa itu merupakan dosa. Akan tetapi selalu mengulanginya sebagai kebiasaan. Jadi nafsu pemuda yang biasa melakukan masturbasi atau beronani selalu bertentangan dengan hati kecilnya. Namun nafsunya selalu mendorongnya untuk melakukanya, sedangkan hatinya menuntunnya dengan memberikan rasa berdosa dan resah,karena dia pun menyadari bahwa perbuatan itu melanggar ajaran Allah SWT.
    Kesenangan dalam melakukan masturbasi atau beronani yang melampaui batas,akan menjadikan pemuda semakin kecanduan dalam berbuat. Hidup pun akan terbawa oleh arus perbuatan keji tersebut,yaitu sekedar untuk memuaskan nafsu birahi yang memuncak. Dengan kata lain,walaupun hati kecilnya ingin membebaskan dirinya dari belenggu syahwat yang menjeratnya,meski pada akhirnya perbuatan masturbasi tetap dilakukan untuk memenuhi kelezatan dan kesenangan belaka,sehingga kebiasaan tersebut menjadi menyatu dan mendarah daging dengan pelakunya.
    Ibnu Qayyim berkata: “bahkan perbuatan masturbasi atau onani itu hanyalah untuk mencari kemaksiatan,tanpa adanya kenikmatan yang ia dapatkan. Sebenarnya pemuda yang melakukan perbuatan tersebut hanyalah memperoleh rasa sakit,setelah bekerja keras mengeluarkan spermanya”.
    Sebagaimana dilagukan oleh Hasan bin Hani: “segelas air kau teguk hanya untuk kesenangan belaka,dan segelas yang lain adalah sebagai obat penawar (terhadap akibat kelezatan itu).”

    4. Cara mengatasi “Masturbasi”
    1. Menikah
    Adapun jalan keluar untuk menghilangkan kebiasaan “masturbasi” adalah Menikah. Selain dianggap sebagai sarana terjitu untuk melampiaskan kebutuhan biologis juga menghilangkan perasaan ingin selalu menyindiri. Rasulullah SAw menganjurkan generasi muda (yang sudah mampu) agar segera mencari jodoh untuk menjadi teman hidup.
    Sabda beliau: “wahai para pemuda! Barangsiapa diantara kamu mampu menjalani hidup sebagai suami istri,segeralah untuk kawin. Karena,dengan demikian pandangan mata dan kemaluanmu akan lebih terjaga. Sedang yang tidak mampu diantara kamu hendaknya berpuasa. Sesungguhnya dengan puasalah dirimu akan terpelihara dari perbuatan maksiat”.
    2. Puasa
    Rasulullah menganjurkan kepada pemuda yang belum mampu kawin,untuk berpuasa. Hal ini seperti yang disabdakan oleh beliau dalam hadist yang telah diriwayatkan olah Bukhari dan Muslim: “….. Sedang yang belum mampu diantara kamu hendaknya berpuasa. Sesungguhnya dengan puasalah dirimu akan terpelihara dari perbuatan maksiat”.
    3. Menjaga pandangan mata
    Sesungguhnya keisengan untuk memandang apa yang diharamkan Allah adalah awal dari fitnah dan asal mula timbulnya syahwat. Maka para pemuda hendaknya mampu menjaga pandangan matanya.
    4. Mendidik Kemauan
    Tidak ada suatu penyebab pentingnya dari tenggelamnya manusia dalam kubangan lumpur syahwat yang mereka anggap sebagai kelezatan, kecuali karena lemahnya kemauan dan tak terselamatkannya harta jiwa. Mereka yang lemah kemauan ini tidak mampu mengekang, bahkan malah membiarkan hawa nafsunya semakin liar.
    5. Memerangi pola pikir negatif
    Telah dimaklumi, bahwa asal mula timbulnya suatu perbuatan adalah hasil dari pemikiran yang terproses di dalam otak, lalu berpindah menjadi keinginan dan hasrat untuk mewujudkannya ke dalam bentuk perbuatan, disertai dengan segala akibatnya. Pemikiran yang positif akan selalu menciptakan kehendak dan perbuatan yang positif, dan sebaliknya pemikiran negatif akan menjelmakan kehendak dan perbuatan yang negatif pula.
    6. Mendekatkan Diri kepada Allah.
    Dengan memdekatkan diri pada Allah maka akan menjaga kita dari kemaksiatan, termasuk juga perbuatan masturbasi atau onani ,karena itu adalah merupakan kemaksiatan, yang berakibat dosa yang besar.
    7. Menyusun jadwal untuk memfungsikan Potensi Diri
    Waktu luang bisa menjadi pintu masuknya kemaksiatan. Maka susunlah jadwal untuk memanfaatkan setiap waktu luang agar lebih bermanfaat. Manusia yang mempunyai waktu demikian luang tetapi tidak memiliki jadwal yang pasti di dalamnya mantaati perintah Rabbnya, niscahya akan mudah baginya untuk berbalik mendurhakaiNya.
    8. Doa
    Doa merupakan jalan keluar untuk melepaskan perbuatan onani, karena doa merupakan bentuk permohonan resmi untuk sembuh kepada Yang Mahamulia dan Maha Pengasih. Doa adalah ucapan kata khidmad yang penuh kerendahan hati, untuk memohon sesuatu kepada yang Maha Pencipta.
    9. Tidur sekedarnya
    Anak muda yang terbiasa melakukan masturbassi atau beronani, seringkali mendapatkan dorongan kuat untuk melakukan masturbasi saat dia terlentang di atas tempat tidur. Apa lagi jika perutnya terlalu kenyang. Maka hendaknya setiap pemuda tidak mendekati tempat tidur kecuali jika hal itu memang sangat dibutuhkan untuk tidur karena dirinya telah mengantuk benar.
    10. Berkonsultasi kepada Dokter
    Anak muda yang mempunyai kebiasaan melakukan masturbasi atau beronani perlu berkonsultasi secara khusus kepada dokter jiwa atau dokter ahli kelamin, untuk membantu dalam mengatasi kesulitannya. Besar kemungkinan mereka akan mengetahui faktor-faktor apa saja yang menyebabkan timbulnya kebiasaan buruk itu. Jika faktor penyebabnya adalah hawa nafsu, tentunya mereka akan memberi obat sebagai penenangnya, dan jika ada faktor kejiwaan yang turut adil di dalamnya, maka dengan pertolongan Allah,tidak mustahil melalui konsultasi kepada dokter, kebiasaan beronani tersebut akan dapat disembuhkan insya Allah.

    demikianlah yang dapat saya sampaikan,semoga beermaanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: