Bid’ah Menurut Ulama NU

Standar

Dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah karya Hadratusy Syeikh Hasyim Asy’ari, istilah “bid’ah” ini disandingkan dengan istilah “sunnah”. Seperti dikutip Hadratusy Syeikh, menurut Syaikh Zaruq dalam kitab ‘Uddatul Murid, kata bid’ah secara syara’ adalah munculnya perkara baru dalam agama yang kemudian mirip dengan bagian ajaran agama itu, padahal bukan bagian darinya, baik formal maupun hakekatnya. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW,” Barangsiapa memunculkan perkara baru dalam urusan kami (agama) yang tidak merupakan bagian dari agama itu, maka perkara tersebut tertolak”. Nabi juga bersabda,”Setiap perkara baru adalah bid’ah”.

Menurut para ulama’, kedua hadits ini tidak berarti bahwa semua perkara yang baru dalam urusan agama tergolong bidah, karena mungkin saja ada perkara baru dalam urusan agama, namun masih sesuai dengan ruh syari’ah atau salah satu cabangnya (furu’).

Bid’ah dalam arti lainnya adalah sesuatu yang baru yang tidak ada sebelumnya, sebagaimana firman Allah S.W.T.:

بَدِيْعُ السَّموتِ وَاْلاَرْضِ
Allah yang menciptakan langit dan bumi”. (Al-Baqarah 2: 117).

Adapun bid’ah dalam hukum Islam ialah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulama’ yang tidak ada pada zaman Nabi SAW. Timbul suatu pertanyaan, Apakah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulama’ yang tidak ada pada zaman Nabi SAW. pasti jeleknya? Jawaban yang benar, belum tentu! Ada dua kemungkinan; mungkin jelek dan mungkin baik. Kapan bid’ah itu baik dan kapan bid’ah itu jelek? Menurut Imam Syafi’i, sebagai berikut;

اَلْبِدْعَةُ ِبدْعَتَانِ : مَحْمُوْدَةٌ وَمَذْمُوْمَةٌ, فَمَاوَافَقَ السُّنَّةَ مَحْمُوْدَةٌ وَمَاخَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُوْمَةٌ
“Bid’ah ada dua, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela, bid’ah yang sesuai dengan sunnah itulah yang terpuji dan bid’ah yang bertentangan dengan sunnah itulah yang tercela”.

Sayyidina Umar Ibnul Khattab, setelah mengadakan shalat Tarawih berjama’ah dengan dua puluh raka’at yang diimami oleh sahabat Ubai bin Ka’ab beliau berkata :

نِعْمَتِ اْلبِدْعَةُ هذِهِ
“Sebagus bid’ah itu ialah ini”.

Bolehkah kita mengadakan Bid’ah? Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita kembali kepada hadits Nabi SAW. yang menjelaskan adanya Bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah.

مَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِئَةً فَعَلَيْهِ وِزْرُهَاوَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِاَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا. القائى, ج: 5ص: 76.
Barang siapa yang mengada-adakan satu cara yang baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan tidak mengurangi dari pahala mereka sedikit pun, dan barang siapa yang mengada-adakan suatu cara yang jelek maka ia akan mendapat dosa dan dosa-dosa orang yang ikut mengerjakan dengan tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun”.

Apakah yang dimaksud dengan segala bid’ah itu sesat dan segala kesesatan itu masuk neraka?
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ
Semua bid’ah itu sesat dan semua kesesatan itu di neraka”.

Mari kita pahami menurut Ilmu Balaghah. Setiap benda pasti mempunyai sifat, tidak mungkin ada benda yang tidak bersifat, sifat itu bisa bertentangan seperti baik dan buruk, panjang dan pendek, gemuk dan kurus. Mustahil ada benda dalam satu waktu dan satu tempat mempunyai dua sifat yang bertentangan, kalau dikatakan benda itu baik mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan jelek; kalau dikatakan si A berdiri mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan duduk.

Mari kita kembali kepada hadits.
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ
Semua bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu masuk neraka”.

Bid’ah itu kata benda, tentu mempunyai sifat, tidak mungkin ia tidak mempunyai sifat, mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak disebutkan dalam hadits di atas; dalam Ilmu Balaghah dikatakan, حدف الصفة على الموصوف “membuang sifat dari benda yang bersifat”. Seandainya kita tulis sifat bid’ah maka terjadi dua kemungkinan: Kemungkinan pertama :
كُلُّ بِدْعَةٍ حَسَنَةٍ ضَلاَ لَةٌ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ
“Semua bid’ah yang baik sesat, dan semua yang sesat masuk neraka”.

Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil. Maka yang bisa dipastikan kemungkinan yang kedua :
كُلُّ بِدْعَةٍ سَيِئَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّاِر

“Semua bid’ah yang jelek itu sesat, dan semua kesesatan itu masuk neraka”.

Jelek dan sesat paralel tidak bertentangan, hal ini terjadi pula dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah membuang sifat kapal dalam firman-Nya :

وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِيْنَةٍ غَصْبَا (الكهف: 79)
Di belakang mereka ada raja yang akan merampas semua kapal dengan paksa”. (Al-Kahfi : 79).

Dalam ayat tersebut Allah SWT tidak menyebutkan kapal baik apakah kapal jelek; karena yang jelek tidak akan diambil oleh raja. Maka lafadh كل سفينة sama dengan كل بد عة tidak disebutkan sifatnya, walaupun pasti punya sifat, ialah kapal yang baik كل سفينة حسنة .

Selain itu, ada pendapat lain tentang bid’ah dari Syaikh Zaruq, seperti dikutip Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Menurutnya, ada tiga norma untuk menentukan, apakah perkara baru dalam urusan agama itu disebut bid’ah atau tidak: Pertama, jika perkara baru itu didukung oleh sebagian besar syari’at dan sumbernya, maka perkara tersebut bukan merupakan bid’ah, akan tetapi jika tidak didukung sama sekali dari segala sudut, maka perkara tersebut batil dan sesat.

Kedua, diukur dengan kaidah-kaidah yang digunakan para imam dan generasi salaf yang telah mempraktikkan ajaran sunnah. Jika perkara baru tersebut bertentangan dengan perbuatan para ulama, maka dikategorikan sebagai bid’ah. Jika para ulama masih berselisih pendapat mengenai mana yang dianggap ajaran ushul (inti) dan mana yang furu’ (cabang), maka harus dikembalikan pada ajaran ushul dan dalil yang mendukungnya.

Ketiga, setiap perbuatan ditakar dengan timbangan hukum. Adapun rincian hukum dalam syara’ ada enam, yakni wajib, sunah, haram, makruh, khilaful aula, dan mubah. Setiap hal yang termasuk dalam salah satu hukum itu, berarti bias diidentifikasi dengan status hukum tersebut. Tetapi, jika tidak demikian, maka hal itu bisa dianggap bid’ah.

Syeikh Zaruq membagi bid’ah dalam tiga macam; pertama, bid’ah Sharihah (yang jelas dan terang). Yaitu bid’ah yang dipastikan tidak memiliki dasar syar’i, seperti wajib, sunnah, makruh atau yang lainnya. Menjalankan bid’ah ini berarti mematikan tradisi dan menghancurkan kebenaran. Jenis bid’ah ini merupakan bid’ah paling jelek. Meski bid’ah ini memiliki seribu sandaran dari hukum-hukum asal ataupun furu’, tetapi tetap tidak ada pengaruhnya. Kedua, bid’ah idlafiyah (relasional), yakni bid’ah yang disandarkan pada suatu praktik tertentu. Seandainya-pun, praktik itu telah terbebas dari unsur bid’ah tersebut, maka tidak boleh memperdebatkan apakah praktik tersebut digolongkan sebagai sunnah atau bukan bid’ah.

Ketiga, bid’ah khilafi (bid’ah yang diperselisihkan), yaitu bid’ah yang memiliki dua sandaran utama yang sama-sama kuat argumentasinya. Maksudnya, dari satu sandaran utama tersebut, bagi yang cenderung mengatakan itu termasuk sunnah, maka bukan bid’ah. Tetapi, bagi yang melihat dengan sandaran utama itu termasuk bid’ah, maka berarti tidak termasuk sunnah, seperti soal dzikir berjama’ah atau soal administrasi.

Hukum bid’ah menurut Ibnu Abd Salam, seperti dinukil Hadratusy Syeikh dalam kitab Risalah Ahlussunnah Waljama’ah, ada lima macam: pertama, bid’ah yang hukumnya wajib, yakni melaksanakan sesuatu yang tidak pernah dipraktekkan Rasulullah SAW, misalnya mempelajari ilmu Nahwu atau mengkaji kata-kata asing (garib) yang bisa membantu pada pemahaman syari’ah.

Kedua, bid’ah yang hukumnya haram, seperti aliran Qadariyah, Jabariyyah dan Mujassimah. Ketiga, bid’ah yang hukumnya sunnah, seperti membangun pemondokan, madrasah (sekolah), dan semua hal baik yang tidak pernah ada pada periode awal. Keempat, bid’ah yang hukumnya makruh, seperti menghiasi masjid secara berlebihan atau menyobek-nyobek mushaf. Kelima, bid’ah yang hukumnya mubah, seperti berjabat tangan seusai shalat Shubuh maupun Ashar, menggunakan tempat makan dan minum yang berukuran lebar, menggunakan ukuran baju yang longgar, dan hal yang serupa.

Dengan penjelasan bid’ah seperti di atas, Hadratusy Syeikh kemudian menyatakan, bahwa memakai tasbih, melafazhkan niat shalat, tahlilan untuk mayyit dengan syarat tidak ada sesuatu yang menghalanginya, ziarah kubur, dan semacamnya, itu semua bukanlah bid’ah yang sesat. Adapun praktek-praktek, seperti pungutan di pasar-pasar malam, main dadu dan lain-lainnya merupakan bid’ah yang tidak baik.

–(KH. A.N. Nuril Huda, Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) dalam “Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) Menjawab“, diterbitkan oleh PP LDNU)

About these ads

17 thoughts on “Bid’ah Menurut Ulama NU

  1. dede jajat

    asslam. apa yang disampaikan pak kyai sangat baik, terutama bagi masyarakat umum yang belum begitu memahami hakikat bid’ah yang sebenarnya. yang selalu mengatakan bahwa semua yang baru yang tidak ada contohnya dari nabi saw adalah bid’ah dan sesat. ini penting untuk terus kita fahamkan kepada umat agar mereka mendapat pemahaman yang benar mengenai bid’ah. jangan sampai mereka bimbang dan ragu dalam menjalani agama ini, yang sebenarnya selalu mengedepankan prinsip kemudahan dalam menjalankan agama. bukannya sikap kaku yang dikembangkan.

    • Bismillah…, “kalau saya perhatikan ulama-ulama ato kyai NU slalu saja membuat fatwa tentang bid’ah, dan semua fatwa itu ketika sudah saya baca ternyata isinya berbelit-belit, berbeda denggan tulisan-tulisan Ahlu sunnah, mereka menulis dengan rinci dan mudah dimengerti, sekarang saya minta sebuah hadits yang derajatnya shahih tentang Tahlilan, muludan, Rajaban, perayaan ulang tahun, nisfu sya’ban eh maaf terlalu banyak saya takut anda kewalahan ampe kedodoran gara-gara gak ada hadisnya yang shahih satu pun, udah segitu dulu. wahai Ummat Muhammad sadarkah kalian selama ini telah menabung kayu untuk menylakan api neraka?, marilah kita bertaubat dengan beralih kepada Qur’an Sunnah yang murni, sesungguhnya Allah maha pengampun bagi hambanya yang mau bertaubat nasuha…

  2. agus

    Dalam surat Al Hasyr ayat 7 jelas bahwa apa yang diberikan Rasul terimalah dan apa yang dilarang tinggalkanlah dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangan keras hukumanNya, jadi ibadah itu harus sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah, bukannya hadist : كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ
    adalah shahih, kalau kita menyelisihi hadist tsb berarti kita menyelisihi Rasulullah. Padahal Rasulullah sudah menyampaikan semuanya apa yang didapat dari Allah dan agama ini telah sempurna.

    • ali

      kalau ada niat menyelisihi al qur’an maupun hadits (na’udzu billah) jelas hukumnya, tapi yang perlu digaris bawahi adalah bagaimana kita memahami makna dari al qur’an dan hadits itu sendiri. bagaimana stok keilmuan kita dalam memahami alqur’an dan hadits..?

  3. Jimmy

    Dalam hadist diatas, mengada adakan sesuatu yang baik dalam Islam … dst. Adalah yang sesuai dengan sunnah, sesuatu yang baik tapi menyelisihi sunnah adalah bid’ah. Rasulullah bersabda, bahwa kita harus berpegang teguh kepada Kitabullah, Sunnah Rasulullah, dan sunnah Sahabat, kalau mau selamat dunia akhirat.
    Masih banyak sunnah yang belum kita laksanakan, mengapa kita harus menciptakan/mengada-adakan sunnah yang baru.

  4. hidayat

    Dan pada saat ummat Islam memasuki bulan Agung atau bulan Rabi’ul Awwal kelahiran manusia agung nan suci kembali terbayang, terkenanglah kita akan jasa2 beliau SAAW yang luar biasa. Ummat manusia menyambut gembira, dan mereka sangat amatlah patut untuk berbahagia, sebab yang diperingati adalah rahmat terbesar dari Allah Ta’ala yang dipersembahkan kepada segenap alam semesta.
    Inilah dampak dari perayaan/peringatan yang hanya dilakukan setahun sekali. Hanya pada bulan itu saja kita ingat kepada Rasullullah SAW. Setelah bulan itu Rasullullah SAW kita lupakan dengan sepinya kembali Masjid-2/Surau-2/Langgar-2. Padahal kalaulah kita mau selalu mengangungkan dan mengingat beliau, maka seharusnya kita memakmurkan Masjid/Surau/Langgar setiap hari dengan mengkaji dan memperdalam isi dan kandungan Al-Qur’an/Hadist-2 yang shahih. Sehingga terciptanya generasi yang kaffah dalam menegakkan kebenaran Islam. Bukan semata-2 acara ceremonial, dengan menutup jalan, bahkan dengan arak-2an yang menyusahkan pemakai jalan lain dan menghamburkan uang yang tidak sedikit, sementara sebagian besar umat Islam Indonesia hidup berada dibawah kemiskinan.
    Padahal Rasullullah SAW, hanyalah berkata bahwa Aku berpuasa pada hari kelahiranku. Bukankah beliau bisa mengumpulkan orang di Masjid untuk membuat kegiatan pada tanggal 12 Rabiul Awal dimaksud. Akan tetapi hanya shaum pada tiap hari Senin. Ini menandakan bahwa kita harus selalu mengingat amalan kita setiap saat, bukannya setahun sekali dengan jor-2an dan setelah itu hanya tinggal kenangan dan pada umumnya pada acara Maulidan tersebut yang terjadi bukannya kegiatan menjadi tuntunan, akan tetapi hanya sebagai tontonan belaka. Naudzubillahi Tsumma Naudzubillahi Min Dzalik. Dan jelas acara merayakan Ulang Tahun hanya mengikuti cara-cara Nasrani.
    Lihat saja sekarang Ceramah Agama dibarengi dengan acara nyanyian-2, walaupun katanya nyanyian itu berbau Islam. Akan tetapi dalam beberapa Hadist Rasullullah SAW menyebutkan bahwa Rasullullah SAW melarang kita bernyanyi dalam bentuk apapun. Inilah bukti bahwa pengaruh Nasrani dan Hindu sudah melekat ditubuh umat Islam. Ditambah lagi banyaknya orang Islam yang tidak suka Islam, sehingga walaupun kita di Indonesia ini mayoritas, akan tetapi bagaikan buih di Samudra atau bagaikan bebek-bebek yang mudah diatur oleh penggembalanya. Dan ketahuilah dalam Surah Al-Baqarah ayat 120 Allah SWT berfirman : Tak akan suka orang Nasrani dan Yahudi hingga kita mengikuti cara-2 dan ajaran mereka. Mereka berkata kalien boleh menjalankan kegiatan keagamaan kalien tapi cara-2nya sepertiku. Semisal boleh buat acara pengajian, tapi ditambah nyanyian dan musik. Boleh berjilbab, tapi yang ketat dan dengan model-2 yang merangsang (ala Selebriti). Boleh shalat, tapi tonton dulu Siaran langsung berita-2 terbaik yang pada umumnya disiarkan langsung dan dipandu oleh penyiar-2 yang mengaku beragama Islam dan dihadiri pula oleh para tokoh yang bukan saja beragama Islam, akan tetapi sebagai tokoh di atas nama lembaga Islam (PERHATIKAN SAAT SESAAT SUDAH AZAN MAGHRIB, Diberbagai stasiun TV Full dengan siaran berita siaran langsung dan ada wawancara dengan tokoh-Islam. Bahkan sesudah dikumandangkannya azan Subuh, masih ada Siaran Langsung Ceramah Subuh diberbagai Stasiun TV (apalagi di Bulan Ramadhan dengan berbagai Siaran Langsung yang dipandu dan dihadiri oleh orang yang mengaku beragama Islam). Bahkan pada siang hari Jum’at mereka buat film-2 yang disukai para penonton dengan tujuan agar kita tak berangkat ke Mesjid. Dan banyak Stasiun TV yang juga buat film/sinetron pada saat Maghrib, sehingga membuat kita lalai untuk melaksanakan Shalat. Akan tetapi semua tokoh-tokoh yang katanya berjuang atas nama Islam bungkam seribu bahasa. Agama hanya dijadikan alat mencari uang dan kekuasaan.
    APALAGI ADA KELOMPOK ISLAM LIBERAL YANG BENAR-2 MERUSAK IMAN DAN AQIDAH BAHKAN MERUSAK AKHLAK UMAT ISLAM DENGAN PENYIMPANGANNYA SECARA TERANG-2AN KEPADA AL-QUR’AN DAN HADIST RASULLULLAH SAW
    Inikah yang diajarkan Rasullullah SAW.
    Seperti seseorang diperbolehkan menabuh rebana dihadapan Rasullullah SAW, dikarenakan nazarnya. Jika bukan karena nazar, maka Rasullullah SAW melarangnya, : seperti tertera dibawah ini,
    Bahkan ada suatu hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Abu Daud, dan Ahmad diceritakan, bahwa tatkala Raulullah SAAW tiba dari sebuah peperangan, seorang budak wanita berkulit hitam datang menemui beliau membawa rebana sembari berkata, “Duhai Rasulullah SAAW, aku telah bernazar, jika Allah Ta’ala mengembalikan dirimu dalam keadaan selamat, aku akan menabuh rebana dan menyanyi dihadapanmu,” maka Rasulullah SAAW menjawab, “Jika engkau telah bernazar, tunaikanlah nazarmu, Jika tidak, jangan.”.

    Dan tentangan jiarah kubur, yang kami tahu bahwa Rasulullah SAW hanya memperbolehkan perjalanan jauh (musafir) untuk mengunjungi 3 tempat, yakni Masjidil Haram; Masjidin Nabawi dan Masjidil Aqsha. Dan kami belum menemukan Hadist (baik yang dhaif apalagi yang shahih), menerangkan bahwa Rasullullah SAW pernah berjiarah kekuburan Orangtua beliau, dan Sanak Keluarga lainnya, juga Siti Khadijah dan para Sahabat yang lebih dahulu wafat ketika Rasullullah SAW masih hidup. Bahkan Khalifaturraasyidin juga tak ada riwayatnya berjiarah kemakam Rasullullah SAW. Misalkan Abu Bakar As-Shiddiq RA karena berada di Makkah lalu mengajak sahabat-2 lainnya untuk berjiarah ke makam Rasul SAW di Madinah. (JIKA ADA HADISTNYA DAN RIWAYATNYA MOHON KAMI DIBERITAHU). Anehnya dizaman kini berziarah itu berkali-2, bahkan menjadi kewajiban setahun sekali. Dan mendatangani kuburan-2 tertentu seperti ke Cirebon, Tuban, Banten, Gersik, Mbah Priuk dan lain-2 untuk meminta barakah dan yang aneh-2 lainnya dilestarikan dan bahkan jadi ajang bisnis para Ustadz/ah dan sekelasnya.Dan dibilang ini sebagai tradisi yang Islami. Bukankah ini bid’ah yang benar-2 sesat, akan tetapi kata mereka ini bid’ah hasanah dengan berbagai dalil yang dhaif. Rasullullah SAW saja tidak ada satu hadistpun yang minta agar kuburannya diziarahi, akan tetapi para Ulama kita, sebelum ajal berpesan agar kuburannya untuk sering diziarahi oleh para murid-2nya dan umat Islam lainnya. Aneh bin aneh
    Bahkan para pelaku bid’ah ada yang mengadakan pengajian berhari-2 di rumah dan kuburan. Yang jelas-2 dalil Al-Qur’an dan Hadistnya kami belum pernah baca (JIKA ADA MOHON KAMI DIBERITAHU, MUNGKIN KAMI BELUM MENEMUKANNYA, maklum kami masih dalam taraf belajar). Dan menurut pendapat kami pengajian dikuburan dan dirumah itu hanyalah semata akal-2an para Ustadz kala itu yang malas bekerja keras dikarenakan menganggap dirinya kaum Priyayi, sehingga hadist yang berbunyi kira-2 “SETELAH DITINGGAL TUJUH LANGKAH MAYYIT AKAN DIINTEROGASI OLEH PARA MALAIKAT”. maka agar malaikat tak kunjung datang, mayyit harus ditunggu dan dingajiin supaya dia dapat tuntunan dalam menjawab pertanyaan malaikat. Dan untuk itu keluarga mayyit harus mengeluarkan dana untuk biaya dimaksud, maka selamatlah para kaum Priyayi yang malas bekerja itu untuk makan dan minumnya selama 40 hari, dengan harapan hari-2 berikutnya ada yang meninggal lagi, maka amanlah perut dan kantongnya. Dan pada setiap saya melihat acara tersebut, sang Ustadz selalu berkata bahwa kegiatan pengajian, tahlil dan talqin ini bukti nyata seorang anak soleh yang berbakti pada Orangtuanya dengan menyebutkan berbagai dalil yang kita tak tahu keshahihannya sebagai alat rujukan untuk menyatakan itu sudah sesuai dengan ajaran dan tuntunanNya. Padahal untuk acara tersebut, anak terpaksa menjual sebagian tanah peninggalan orangtuanya atau utang sana sini demi menjaga tradisi yang dibuat-2 oleh kaum bid’ah. Dan tinggallah keluarga yang ditinggal kian terpuruk, padahal sudah seharusnya kewajiban kaum muslimin untuk melindungi para anak yatim. Akan tetapi yang terjadi para Ustadz dan sejenisnya itu bergembira/berbahagia di atas penderitaan orang lain.

    Kita ambil lagi sebagian dari kalimat :
    Dan hal yg saya paparkan diatas (Sayyidina Umar ra. membuat sholat tarawih berjama’ah) juga bertentangan dengan apa disebut bid’ah.
    Wahai Saudaraku, setahu kita bahwa Rasullullah SAW juga sudah pernah menjadi Imam Shalat Tarawih, akan tetapi hanya 3 malam saja beliau lakukan. Dan selanjutnya di Imami oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq RA. Dengan alasan takut kalau shalat tarawih akan dianggap sebagai shalat yang diwajibkan. Ini berarti bahwa pada masa Rasullullah SAW hiduppun shalat Tarawih sudah dilaksanakan berjama’ah. Dan Rasullullah SAW pun pernah bersabda : (yang kira-2 maksudnya) : Ikutilah apa-2 yang aku lakukan dan para Khalifatur Rasyidin. Jadi dimana letak bid’ahnya.
    Mungkin maksudnya Saya pernah baca dalam satu riwayat, bahwa Sayyidina Umar RA menambah jumlah raka’at shalat tarawih dan witir menjadi 39 rakaat, dikarenakan Sayyidina Umar RA berada di Madinah dan Sayyidina Abu Bakar RA meminpin shalat Tarawih di Makkah yang jumlahnya 21 rakaat, hanya setiap 2 rakaat diselingi dengan Thawaf. Sementara di Madinah tidak bisa Thawaf, sehingga Sayyidina Umar RA mengganti Thawaf dengan shalat Sunah 2 rakaat. Lalu dikatakan ini bid’ah hasanah. Ini namanya bukan bid’ah dikarenakan adanya pernyataan Rasullullah SAW ikutilah apa yang aku dan Khalifah yang empat contohkan kepada kalien.
    Wahai Saudaraku, jikalah kita bilang bahwa kita sangat cinta kepada Rasullullah SAW dan kita sangat menginginkan Surganya ALLAH, maka sudah barang tentu para Sahabat, Tabi’in, Tabit-Tabi’in, Imam yang empat serta Imam yang hidup dizaman mereka sudah barang tentu paling-paling dan sangat paling-paling cinta Allah dan RasulNya, ketimbang kita ataupun para Ulama/Ustadz dan sejenisnya yang hidup jauh setelah zaman mereka. Dan bahkan apalagi para Sahabat yang hidup dizaman Rasullullah dan Khalifaturraasyidin sudah barang tentu akan banyak melakukan Ibadah dan kegiatan yang menurut mereka amat baik, dikarenakan Rasullullah SAW akan langsung mengomentari apakah yang mereka perbuat itu sudah sesuai ketentuan Allah dan RasulNya atau tidak. Dan banyak Hadist lahir merupakan kegiatan para Sahabat yang didiamkan, dikoreksi atau tidak diperbolehkan oleh Rasullullah SAW setelah mendapat petunjuk dari Allah SWT.
    Akan tetapi para Ulama/Ustadz yang hidup setelah abad kelima Hijrahlah yang banyak memberi dalil dan ajaran-2 tambahan dalam bentuk bidah dengan diberi bungkus sebagai bid’ah hasanah. Dimana pada masa itu kejahilan dan kemunafikan serta berbagai paham sesat sudah kian merajalela dan pemerintah serta penguasa yang menjalankan dan berpedoman pada Al-Qur’an dan Hadist Rasullullah SAW kian langka, dimana kekuasaan dan uang sudah menjadi kiblat dalam kehidupan dunia. Lalu timbullah berbagai pendapat untuk melaksanakan perintah agama secara instant dan gampang dengan pahala yang jumlahnya belipat-2 sehingga lahirlah berbagai fatwa ini baik dan itu baik. Padahal baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah dan RasulNya, sesuai dengan Firman Allah SWTdalam Surat Al-Kahfi ayat 103, 104 dan 105 yang intinya menyatakan ORANG MERUGI ADALAH ORANG YANG TELAH SIA-SIA BERBUAT BAIK MENURUT VERSINYA SENDIRI DAN PERBUATAN BAIK ITU TIDAK SESUAI AYAT-AYAT ALLAH SWT, SEHINGGA HAPUSLAH AMALAN MEREKA.
    Dan Allah Subhanallahi Wata’ala menegaskan bahwa Islam yang beliau turunkan melalui Rasullullah Shallallahi’alaihi Wassallam telah amat-2 sempurna (Al-Maidah ayat 3), dimana semua aturan dan ketentuan telah disampaikan sedetil-2nya sampai urusan tidur dan meniduri, perut dan segala ampas-2nya. Apakah kita merasa lebih berkuasa dan memiliki kelebihan dari asma Allah dan lebih hebat dari Rasullullah sehingga segampang itu nambah-2in, seolah-2 masih ada yang terlupakan disampaikan oleh Allah dan RasulNya. Itu artinya kita sudah berbuat maksiyat dengan Allah dan RasulNya. Dan tambah-2an ini mulai tumbuh setelah wafatnya Imam yang empat. Karena setelah Rasullullah wafat, dilanjutkan oleh Para Khalifaturrasyidin, para Sahabat, para Tabi’in, Tabi’it Tabi’in dan Imam yang empat tidak ada yang berani nambah-2in, terkecuali kaum Munafik, Khawarij dan sejenisnya yang jelas-2 mengingkari Al-Qur’an dan Hadist.
    Kemudian setelah 5 abad Hijrahlah baru para Ulama saat itu memulai bid’ah dengan lancar dengan dalil Al-Qur’an dan Hadist-2 yang mereka anggap shahih.
    Karena banyak sekarang amalan-2 kita yang tidak ketemu Hadist dan dasarnya di Al-Qur’an, kecuali semata-2 hanya ITUKAN BAIK, INIKAN BAIK.
    Yang kita tahu, lebih gampang menyadarkan orang berbuat maksiat ketimbang orang berbuat bid’ah. Karena orang yang berbuat maksiat Dia begitu yakin bahwa yang dia buat adalah perbuatan salah akan tetapi dia sudah keenakan mengerjakannya. Dan orang yang berbuat BID’AH tidak menyadari perbuatannya itu salah, karena Ia hanya beralasan Inikan sudah dijalankan dari Ulama-2/Ustadz/Orangtua-2 kita terdahulu dan toh ini baik untuk nambahin pahala, sementara Nash Al-Qur’an dan Hadist tak ada yang mendukung.

    Demikian saja dulu dari Saya hamba yang dhaif, mudah-2an tanggapan ini dapat didiskusikan, sehingga kita benar-2 menjadi penghikut setia Rasullah SAW dan termasuk satu golongan (Ahlus Sunnah) yang terbebas dari kesesatan dari 69 golongan yang sesat (Hadist Shahih). Dan banyak golongan yang mengaku sebagai Ahlussunnah Waljama’ah, akan tetapi kurafat, syirik dan bid’ah masih dijalankan. Apakah dapat dikatakan mereka itu sebagai AhlusSunnah.
    Dan kami ucapkan Syukran Kastir. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
    dan kami tunggu tanggapannya, mudah-2an bermanfaat

    Hidayat

  5. Andi

    Hadits : “Barang siapa yang mengada-adakan satu cara yang baik dalam Islam…. dst” . mengapa hadits ini dipotong? bukankah ada penyebabnya, hingga Rasulullah -shallalahu alaihi wa sallam- mengucapkan hal ini?

    kemudian ttg tarawih Umar -radhiyallahu ‘anhu-, jelas2 sudah dicontohkan sebelumnya oleh Rasulullah -shallalahu alaihi wa sallam- dg tarawih berjamaah..

    tetnang pengumpulan Al Qur’an dan adzan 2x khalifah Utsman -radhiyallahu ‘anhu-. maka mudah saja, bukankan Rasulullah -shallalahu alaihi wa sallam- mengatakan bahwa kita akan berpecah belah? solusinya : beliau mengatakan, kembalilah kepada sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin (yaitu Abu Bakr, Umar, Utsman dan Ali -radhiyallahu ‘anhum-).. dengan begitu, ya kita terima apa adanya, krn keempat khalifah itu memang diberi kewenangan oleh Rasulullah -shallalahu alaihi wa sallam- untuk melakukan penyasuaian syariat agar lebih mudah dijalankan..

    sehingga dari sini bs kita tanyakan, bagaimana bs para orang2 yg lahir diluar 3 generasi terbaik Islam, menetapkan hukum baru misalnya ‘tahlilan itu hasanah’ dsb? bukankah mereka tidak punya kewenangan utk membuat ajaran baru?

    cukuplah perkataan Ibnu Umar -radhiyallahu ‘anhu- (yg beliau ini dipuji ‘Aisyah -radhiyallahu ‘anha- dengan sebutan orang yg paling memegang teguh sunnah) :”semua bid’ah adalah sesat, meskipun orang menganggapnya baik”..

    orang yg berakal tentu tdk akan menabrak kata2 para sahabat Nabi, dan mengunggulkan perkataan orang2 setelah mereka.. meskipun memiliki gelar Syaikh, jk menabrak kt2 sahabat maka perkataan syaikh tsb harus dibuang ke laut..

  6. adi

    Kalau begitu tolong disebutkan apakah amal ini termasuk bid’ah hasanah atau bid’ah yang sesat:
    - Shalat dzhuhur 5 rokaat, shubuh 4 rakaat, isya 6 rakaat?
    - Adzan 2 kali disetiap waktu shalat?
    - Dzikir setelah sholat fardhu menjadi subhanallah (1000x), alhamdulillah (1000x), Allohuakbar (1000x)?

    Kalau amalan diatas bukan termasuk bid’ah hasanah maka apa patokan bid’ah itu hasanah atau dholalah, dan apakah patokan tersebut disebutkan dalam Al-Quran & As-sunnah?

    Adapun Anaknya Umar bin Khattab rodhiyallohu ‘anhu berkata:
    Kullu bid’atin dhollalah wa in roahannaasu hasanah
    (Setiap bid’ah itu sesat walau orang memandangnya hasanah (baik))

    Jadi apakah lebih baik ikut pemahaman shahabat nabi yang belajar langsung dari nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam ataukah ikut pemahaman ulama NU yang lahir lebih dari seribu tahun kemudian?

    barokallohu fiikum

  7. ridwan

    pa kiai…. napa ya kebanyakan orang membahas masalah bid’ah padahal permasalahan yang lebih penting dari itu masih buanyak…?
    yang bilang bid’ah jelek belum tentu dia ga nglakuin…
    dan yang bilang bid’ah bagus dan jelek itu juga belum tentu dy nglakuin…
    pan manusia itu tempatnya salah dan lupa….?
    klo masalah kita ngikut siape…
    shohabat pa ulama…
    ngapain nyari yang jauh…
    yang ade ajah udah biyar bisa keliatan yata..
    pan ulama ma shohabat sama2 manusia yang ga lepas dari salah….
    klo ngikutin rosul kan udah rada ga bisa coz jaman kita n rosul udah terlalu jauh…
    n rosul juga udah bilang klo pengganti rosul ntu para ulama..
    ulama ngikutin rosul kita ngikutin ulama..
    pan akhirnya nyampe juga ke rosul

    • adi

      Gini mas.. Sebagaimana sabda nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam.
      Kalo bingung dengan semua perselisihan ini beliau berkata:
      tarji’u ila amrikumul awwal..
      kembalilah kepada urusan kamu semula.

      yaitu balik kepemahaman yang awal, hal itu bisa dicari di buku2 ulama terdahulu. Anda bisa membandingkannya dengan ulama yang sekarang. Dengan begitu Anda akan tau ulama sekarang mana yang sesuai dengan Sunnah Nabi Sholallohu ‘alayhi wasallam.

  8. mbah yo

    lebih gampang…jalani dulu sendiri dng apa yg telah didapat. g usah merecoki urusan ibadah orang. doain aja kalo emang anda menganggap saudara2 anda sesat. kadang2 pada lupa : RASULULLAH MELAKNAT ORANG YANG BERDEBAT KRN ADA SETAN DIDALAMNYA. saya sih paham semua dng yg kalian maksud, saya malah paham, ilmu kalo sedikit itu sombongnya selangit. byk dr temen saya belajar hadist agar bisa menyerang saudara yg lain. Naudzubillah…semoga Allah melaknat orang yg berniat demikian. maaf, saya belajar cukup banyak mengenai kitab. dan semua berbeda dalam hal furu’iyah saja. kalo masih pada meributkan juga…masya Allah…masih banyak PR kita menghadapi dajjal. jikalau memang kita sayang denga saudara kita yg anda anggap sesat maka doakan saja. jgn dng alasan yg anda generalisir mempertebal kantong ustad kek…mperkaya kyai kek…tsumma naudzubillah…semoga Allah mengampuni dosa2 krn fitnah anda. sy g pnah mau meributkan apa yg selama ini diributkan oleh saudara2 sy yg masih hijau dalam ilmu agama yg sering berlagak garang dan pelaku islam yg benar. karena apa? saya lebih suka dng karya nyata, mengajak scr langsung dng uswatun hasanah. alhamdulillah byk yg mau hijrah. g perlu pdebatan tolol g berarti, berperilaku sunnah tapi hanya luarnya saja, berperilaku snnah tapi baik dng golongannya saja…naudzubillah semoga ISLAM tetap mjd rel yg diberikan Nabiyullah saw. saya g bela siapa2 mengingat saya paham ilmu ente2 tingkatnya msh belajar di beberapa tempat dan g terjun 100% ( kaya ane hehehe)…namun anda harus ingat buaah dari ibadh adl perilaku yg akhlakul karimah. anda klaim anda sdh sesuai dng sunnah, tp anda g minta ridho Allah ya tetep aja blangsak. Allah lebih suka dng hambaNya yang menjalankan perintahNya dan sunnah nabiNya tapi memberikan manfaat lebih luas ke lingkungannya. jadi tolong…instropeksi saja..g usah menjelek2an orang dng tuduhan mengeruk keuntungan. kalopun memang benar ya udah…dia yg nanti tanggung jawab di hadapan Allah. Demi Allah saya sedih umat ISLAm sekarang jadi umat kacangan. sedikit2 ribut…merasa paling benar…agama jadi tuhan bahkan jadi lupa siapa tuhannya. semoga degan dakwah yg baik, meluruskan niat, mensucikan niat kita berjihad melawan hawa nafsu kita. utk sodara2 yg suka mendebat, semoga Allah memberikan kalian hidayah utk mendapatkan perilaku yang baik pula. sayang kan ibadahnya jd ilang gara2 perilakunya…naudzubillah

    • yahya

      mbah yo: antum jg sombong tuh: “merasa lebih baik”) dari yg antum komentarin. dan jg antum udah ujub, riya, nyebut2 amal antum di sini:” afwan ya:

      • A Fauzan

        Assalamu’alaikum…Marilah saudaraku semua, marilah kita beristighfar…..pengadilan ALLOH, insya ALLOH masih sangat jauh….mengapa kita sudah saling mengadili bahkan memvonis satu dengan lainnya….bukankah kita sesaudara…..ingatlah!perpecahan kita sangat diharapkan oleh musuh2 kita….maka waspadalah saudaraku….bolehlah saling menasihati tetapi jangan saling menghakimi….saya tidak memihak salah satu dari kalian, karena kalian semua saudaraku seiman dan seaqidah …..aku tau persis siapa musuhku, yg pasti musuhku bukan dari saudaraku sesama muslim….seperti Imam Syafi’i pernah berkata kepada Yunus ash-Shadafi: “Wahai Abu Musa, apakah kita tidak bisa untuk tetap bersahabat sekalipun kita tidak bersepakat dalam suatu masalah?!”…….

  9. ramdan

    Mengenai seluk beluk bid’ah, rujukan paling tepat adalah kitab Al-I’tishom karya Syaikh As-Syatibi. Mudah-mudahan Allah memberikan petunjuk bagi yang lapang dada untuk membaca dan mempelajarinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s