Hukum Merayakan Ulang Tahun

Standar

Dalam catatan di Tabloid NOVA, 679/XIV, 4 Maret 2001, ternyata tradisi perayaan ulang tahun sudah ada di Eropa sejak berabad-abad silam. Orang-orang pada zaman itu percaya, jika seseorang berulang tahun, setan-setan berduyun-duyun mendatanginya. Nah, untuk melindunginya dari gangguan para makhluk jahat tersebut, keluarga dan kerabat pun diundang untuk menemani, sekaligus membacakan doa dan puji-pujian bagi yang berulang tahun. Pemberian kado atau bingkisan juga dipercaya akan menciptakan suasana gembira yang akan membuat para setan berpikir ulang ketika hendak mendatangi orang yang berulang tahun. ini memang warisan zaman kegelapan Eropa. 

berdasarkan catatan tersebut, awalnya perayaan ulang tahun hanya diperuntukkan bagi para raja. Mungkin, karena itulah sampai sekarang di negara-negara Barat masih ada tradisi mengenakan mahkota dari kertas pada orang yang berulang tahun. Namun seiring dengan perubahan zaman, pesta ulang tahun juga dirayakan bagi orang biasa. Bahkan kini siapa saja bisa merayakan ulang tahun. Utamanya yang punya duit. 

Jadi Tradisi ulang tahun sama sekali tidak memiliki akar sejarah dalam islam. Islam tak pernah diajarkan untuk merayakan ulang tahun. Kalo pun kemudian ada orang yang berargumen bahwa dengan diperingatinya Maulid Nabi, hal itu menjadi dalil kalo ulang tahun boleh juga dalam pandangan Islam. Maka ini adalah argumen yang gegabah

Karena pasti Rasulullah SAW sendiri tak pernah mengajarkan kepada kita melalui hadisnya untuk merayakan maulid Nabi. Maulid Nabi, itu bukan untuk diperingati, tapi tadzkirah, alias peringatan. Maksudnya? Kalo kita baca buku tarikh Islam, di situ ada catatan bahwa Sultan Shalahuddin al-Ayubi amat prihatin dengan kondisi umat Islam pada saat itu. Di mana bumi Palestina dirampas oleh Pasukan Salib Eropa. Sultan Shalahuddin menyadari bahwa umat ini lemah dan tidak berani melawan kekuatan Pasukan Salib Eropa yang berhasil menguasai Palestina, lebih karena mereka udah kena penyakit wahn (cinta dunia dan takut mati). Mereka bisa begitu karena mengabaikan salah satu ajaran Islam, yakni jihad. Bahkan ada di antara mereka yang nggak ngeh dengan perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. 

untuk menyadarkan kaum muslimin tentang pentingnya perjuangan, Sultan Shalahuddin menggagas ide tersebut, yakni tadzkirah terhadap Nabi, yang kemudian disebut-entah siapa yang memulainya-sebagai maulid nabi. Tujuan intinya mengenalkan kembali perjuangan Rasulullah dalam mengembangkan Islam ke seluruh dunia. Singkat cerita, kaum muslimin saat itu sadar dengan kelemahannya dan mencoba bangkit. Karuan aja, berkobarlah semangat jihad dalam jiwa kaum muslimin, dan bumi Palestina pun kembali ke pangkuan Islam, tentu setelah mereka mempecundangi Pasukan Salib Eropa. Jadi Maulid nabi bukan dalil dbolehkannya pesta ultah. 

 kita kembali ke soal pesta ultah ini. Jadi pesta ultah itu bukan warisan Islam. Tapi warisan asing, alias ajaran di luar Islam. Lalu gimana kalo kita melakukannya? Berdosakah?karena tradisi itu adalah tradisi orang-orang Eropa, yang saat itu berkembang ajaran Kristen, maka pesta ultah tentu saja merupakan tradisi kaum non-muslim. Kalo kita melakukannya? Dosa dong. Rasulullah SAW bersabda : “Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dalam golongan mereka.” (HR. Abu Dawud). Dalam riwayat lain. Rasulullah SAW bersabda : “Kamu telah mengikuti sunnah orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk ke dalam lubang biawak, kamu tetap mengikuti mereka. Kami bertanya : Wahai Rasulullah, apakah yang engkau maksudkan itu adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang Nasrani? Baginda bersabda: Kalau bukan mereka, siapa lagi?” (HR. Bukhari Muslim). dari sini jelas bahwa hukum merayakan ultah adalah haram. Berdosa.             

mungkin ada pertanyaan begini, “Bolehkah merayakan ulang tahun dalam arti berdoa atau mendoakan agar yang berulang tahun selamat, sehat, takwa, panjang umur, dan seterusnya. Semua itu dilakukan dengan cara dan isi doa yang syar’i, tanpa upacara tiup lilin dan sebagainya seperti cara Barat, lalu dilanjutkan acara makan-makan. Bolehkah?”

Jawabannya, berdoa dan makan-makan adalah halal. Tetapi bila dilakukan pada hari seseorang berulang tahun, maka akan terkena hukum haram ber-tasyabbuh bil kuffar. Jadi di sini akan bertemu hukum haram dan halal. Dalam kondisi seperti ini wajib diutamakan yang haram daripada yang halal sebab kaidah syara’ menyebutkan : “Idza ijtama’a al halaalu wal haraamu, ghalaba al haramu al halaala.” Artinya, “Jika bertemu halal dan haram (pada satu keadaan) maka yang haram mengalahkan yang halal.” (Kitab as-Sulam, Abdul Hamid Hakim). 

Dengan demikian, jika merayakan ultah diartikan sebagai “berdoa dan makan-makan”, dan dilaksanakan pada hari ultah, hukumnya haram, sesuai kaidah syar’i di atas. Akan tetapi jika dilaksanakan bukan pada hari ultah, maka hukumnya –wallahu a’lam bi ash shawab– menurut pemahaman kami adalah mubah secara syar’i. Sebab hal itu tidak termasuk tasyabbuh bil kuffar karena yang dilakukan pada faktanya adalah “berdoa plus makan-makan”, yang mana keduanya adalah boleh secara syar’i. Lagi pula hal itu dilakukan tidak pada hari ultah sehingga di sini tidak terjadi pertemuan halal dan haram sebagaimana kalau acara tersebut dilaksanakan pada hari ultah. Wallahu a’lam. 

Allah SWT Berfirman : “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. ali Imrân [3] : 85). dan “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mengetahui tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. al-Isrâ’ [17] : 36). 

Rasullah SAW juga bersabda : Belum sempurna keimanan salah seorang di antara kalian, sebelum hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (al-Qur’an). (Hadits ke-41 dalam Hadits al-Arba’in karya Imam Nawawi). 
            

About these ads

37 thoughts on “Hukum Merayakan Ulang Tahun

  1. dr.fayza

    Assalamualaikum.

    Kalo di adakan sedekah makan dengan fakir miskin dan anak yatim di hari ‘H’ nya, dengan tujuan mensyukri rahmat Allah yang telah memberikan kehidupan ini gimana ya?

  2. saif1924

    Sama aja tidak boleh bersedekah dengan maksud merayakan ulang tahun.karena itu sama dengan merayakan ulang tahun

  3. lalu, bagaimana dengan orang2 yang merayakan hari ulang tahun tersebut? kenapa hari jadi itu tidak boleh dirayakan? padahal pada hari spesial itu kita ingin berbagi kebahagiaan dengan orang2 sekitar sebagaimana mereka dulu bahagia akan menyambut kedatangan kita ke dunia ini.. itu perayaan dengan maksud kita ingin berbagi kebahagiaan, sadangkan berbahagia itu kan tidak dilarang. lalu, apa yang jadi masalah di hari ulang tahun??

  4. ummu hasan

    Assalamualaikum…
    maaaf saya ikut mengomentari,,, Mas Dedek -Baarakallahu fiik- bukan bahagianya lho yang dilarang, tapi hukum syar’inya dalam islam..
    Bnyak ko, fatwa ulama mengenai haramnya peringatn ultah..kalo emang mas dedek senang untuk bisa berbagi kebahagiaan, kenapa ga di hari lain aja???
    Suatu saat Rasulullah memasuki kota madinah, kemudian didapatinya 2hari raya yang diperingati kaum Anshar untuk bersenang-senang:
    Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian hati yang lebih baik dati keduanya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha”
    Tuh kan mas.. Rasul aja meminta umatnya agar hanya memperingati 2 hari raya aja..
    trus juga ya mas, ancaman yang terberat itu ya tasysabuh-nya,, dimana kaum Nashrani memperingati hari kelahiran Nabi Isa (ultah Isa),, Kita kan ngga mau ya.. digolongkan kedalam kaum kafir, maka dari itu juga Rasulullah memperingati kita agar kita selalu menyelisihi mereka disetiap kebiasaan mereka… salah satunya ya.. dengan tidak merayakan pesta ULtah….
    Toh, Sahabat RAsulullah sekalipun yang paling faham dengan Sunnah yang dibawa RAsulullah, belum ada riwayatnya mereka bersenang-senang dengan merayakan ultah, So, knapa kita ngga mencukupkan agama ini sesuai dengan syariatnya aja?????

    Wallahu’alam…

  5. autobot

    owh… berarti merayakan, mksd sy mengadakan acara ulang tahun hukumnya mubah donk ka/ pak/ ustadz… dgn catatan tdk merayakan pd hari ulng thn itu sendiri.. betul kan!!!! kl qt mlihat orang2 pd saat ini, zaman sekarang… bnyk orng yg merayaknya sblm/sesudh hari ulth tersebut, akan tetapi tetap intinya untuk merayakan hari ulang thn, naah… bgimana kl qt kaitkan dgn hadits rasulullah. “innama al-‘amalu binniyah, wa innama likulli imri’in ma nawa”. berarti sama aja dong…. gmn ka/pak/ustadz menanggapi hal demikian?????

  6. rizkicssi

    maaf ustad,ijin meluruskan

    yg tidak boleh itu mengadakan syukuran yg br7an mrayakan Ultah, tapi mengadakan syukuran di hari ultah boleh2 ja, kalau 7an@ bukan syukuran ultah, beda antar syukuran ultah dgn syukuran di hari ultah

    kl syukuran di hari ultah ga boleh,sama j qt mlarang umat muslim mengadakan acara keagamaan di masjid pada hari minggu, karena sama sperti nasrani…bgt

    • najja

      apapun kegiatannya,,, apapun caranya,,, kalau niatnya utk memperingati ulang tahun ya itu namanya merayakan ulang tahun,,, jadi,,, gak usah cari cari alasan/dalil/argumen atau segudang buku untuk pebenaran ,,, say dengar dan saya taat titik

  7. Umar tidore

    Itulah bedanya kita di jaman skarng dgn para sahabat dulu, mreka tdk prnah mncari2 pmbnaran dan alasan untk mlakukan sesuatu yg tdk diajar Rasul, mreka hanya meniru / mngikuti apa yg di ajarakan Rasulullah, selain dari itu TIDAK. Asal tau aja, Ultah itu sudah ada jauh sblm jaman Rasulullah, tapi Rasul tdk prnah mngajarkan tntang itu, krn kbiasaan org2 Kafir dahulu. Tapi kalo saudara2ku masih ttap juga ngotot rayakan sy minta supaya jgn hanya tahunnya yg diulang (disyukuri), tapi ulang2 juga bulannya, minggunya, harinya, jamnya, mnitnya, detiknya biar adil dong, kan kita mau syukuri prtambahnya umur (waktu) yg ALLAH anugrhkan kpd kita, ayo kalo bisa rayakan tiap hari apa kalian di lahirkan, dan rayakan juga jam lahirnya jam brp, bahkan harus sampai ulang detik kalo mmang bnar2 mau brsyukur kepada AllahSWT

  8. aji

    saya masih bingung, jadi batasan menyerupai suatu kaum itu dimana.

    soalnya kalo alasannya seperti yang dijelaskan diatas, maka akan banyak sekali yang dinamakan bid’ah. sebagai contoh:

    – olimpiade games
    – wisudaan sekolah atau perguruan tinggi
    – Syukuran waktu pindah rumah
    – dll

    kalo dipikir2 itu semua bukan tradisi islam, dan kebanyakan dari barat. Apakah itu semua bid`ah/haram?

    Thanks buat info ini, saya soalnya jadi tahu ada pendapat seperti ini. sangat menarik..

  9. Perlukah Umat Islam Merayakan Ulang Tahun

    Assalamu”alaikum Wr. Wb.

    Saya ingin bertanya, bolehkah umat Islam merayakan ulang tahun, dan bolehkan kita memakan pemberiannya? Mohon dijelaskan.

    Wasalamu”alaikum Wr. Wb.
    jawaban

    Assalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

    Pembahasan boleh tidaknya masalah ulang tahun seseorang atau organisasi memang tidak disinggung secara langsung dalam dalil-dalil syar‘i. Tidak ada ayat Al-Quran atau hadits Nabawi yang memerintahkan kita untuk merayakan ulang tahun, sebagaimana sebaliknya, juga tidak pernah ada larangan yang bersifat langsung untuk melarangnya.

    Sehingga umumnya masalah ini merupakan hasil ijtihad yang sangat erat kaitannya dengan kondisi yang ada pada suatu tempat dan waktu.

    Artinya, bisa saja para ulama untuk suatu masa dan wilayah tertentu memandang bahwa bentuk perayaan ini lebih banyak mudharat dari manfaatnya. Namun sebalik, bisa saja pendapat ulama lainnya tidak demkian, bahkan mungkin ada hal-hal positif yang bisa diambil dengan meminimalisir dapak negatifnya.

    Mengapa demikian? Karena memang tidak didapat nash yang secara sharih melarang atau membolehkannya. Tidak terdapat dalam sunnah apalagi dalam Al-Quran. Sehingga dalam satu majelis yang di dalamnya duduk para ulama, perbedaan sudut pandang pun bisa saja terjadi, tergantung dari sudut pandang mana seorang melihatnya.

    Pendapat yang Mengharamkan

    Sebagian ulama yang berfatwa mengharamkan perayaan ulang tahun, berijtihad dari dalil-dalil yang bersifat umum. Misalnya, dalil-dalil yang melarang umat Islam meniru-niru perbuatan orang-orang kafir. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

    من تشبه بقوم فهو منهم
    Siapa yang menyerupai suatu kaum, maka termasuk mereka (HR. Ahmad dan Abu Dawud)

    Kiranya para ulama itu memandang bahwa perayaan ulang tahun itu identik dengan perilaku orang-orang kafir. Sehingga mereka mengharamkan umat Islam untuk merayakannya secara ikut-ikutan.

    Selain itu, oleh sebagian ulama, seringkali acara ulang tahun disertai dengan banyak kemaksiatan. Seperti minuman keras, pesta musik, joget, dansa, campur baur laki-laki dan wanita. Bahkan banyak yang sampai meninggalkan shalat dan kewajiban lainnya. Seringkali juga pesta-pesta itu sampai melupakan niat utama, tergantikan dengan semangat ingin pamer dan menonjolkan kekayaan. Sehingga menimbulkan sifat riya” dan sum”ah pada penyelenggaranya.

    Yang Cenderung Membolehkan

    Adapun sebagian lainnya dari para ulama, mereka cenderung membolehkan ulang tahun. Dengan landasan dasar bahwa ulang tahun bukanlah ibadah ritual. Sehingga selama tidak ada larangannya yang secara langsung disebutkan di dalam nash Quran atau sunnah, hukum asalnya adalah boleh. Sesuai dengan kaidah “al-ashlu fil asy-yaa”i al-ibahah.” Bahwa kaidah dasar dari masalah muamalahadalah kebolehan, selama tidak ada nash yang secara tegas melarangnya.

    Adapun alasan peniruan orang kafir, dijawab dengan argumen bahwa tidak semua yang dilakukan oleh orang kafir haram dikerjakan. Hanya yang terkait dengan peribadatan saja yang haram, adapun yang terkait dengan muamalah, selama tidak ada nash yang langsung melarangnya, hukumnya tidak apa-apa bila kebetulan terjadi kesamaan.

    Misalnya, kebiasaan pesta pasca panen di suatu negeri yang masih kafir. Apakah bila ada kebiasaan yang sama di suatu negeri muslim, dianggap sebagai bentuk peniruan? Tentu tidak, sebab hal itu dipandang sebagai ”urf yang lazim, tidak ada kaitannya dengan wilayah kekufuran atau kebatilan.

    Para ulama dari kelompok ini cenderung menetapkan ”illat haramnya peniruan pada orang kafir berdasarkan titik keharamannya. Bukan semata-mata dilakukan oleh mereka. Misalnya, kebiasaan orang kafir memberikan sesaji kepada gunung yang mau meletus, maka hukumnya haram bagi muslimin untuk melakukannya.

    Adapun bila ada nash secara langsung dari Rasulullah SAW untuk tidak meniru suatu perbuatan tertentu, maka wajib bagi tiap muslim untuk mengikuti perintah beliau. Misalnya, larangan Rasulullah SAW bagi umat Islam untuk mencukur jenggot dan memelihara kumis, sebab dianggap menyerupai orang kafir. Maka larangan itu tetap berlaku, meski pun orang kafir sendiri telah merubah kebiasaannya.

    Beberapa Pertimbangan

    Bila kita ingin meletakkan hukum merayakan ulang tahun, kita harus membahas dari tujuan dan manfaat yang akan didapat. Apakah ada di antara tujuan yang ingin dicapai itu sesuatu yang penting dalam hidup ini? Atau sekedar penghamburan uang? Atau sekedar ikut-ikutan tradisi?

    Yang kedua, apa manfaat acara seperti itu? Adakah sesuatu yang menambah iman, ilmu dan amal? Atau menambah manfaat baik pribadi, sosial atau lainnya?

    Yang ketiga, adakah dalam pelaksanaan acara seperti itu maksiat dan dosa yang dilanggar?

    Yang keempat, bila ternyata semua jawaban di atas positif, dan acara seperti itu menjdi tradisi, apakah tidak akan menimbulkan salah paham pada generasi berikut seolah-olah acara seperti ini harus dilakukan? Hal ini seperti yang terjadi pada upacara peringat hari besar Islam baik itu kelahiran, isra` mi`raj dan sebagainya.

    Jangan sampai dikemudian hari, lahir generasi yang menganggap perayaan ulang tahun adalah sesuatu yang harus terlaksana. Bila memang demikian, bukankah kita telah kehilangan makna?

    Wallahu a‘lam bis-shawab. wassalamu ‘alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
    Ahmad Sarwat, Lc.

    Ngopi dari: http://www.ustsarwat.com/search.php?id=1145940516

  10. Jika ultah dianggap ritual maka bid’ah sesat.

    Jika hny dianggap tradisi maka tasyabuh,

    riwayat bahwa shalahudin mengadakan maulud nabi juga tidak valid referensinya. Yg mengadakan adalah salah satu anak buahnya (raja bawahan) yaitu raja muzhafar dan nampaknya setelah wafatnya salahudin. Salahudin wafat umur 55 tahun.

  11. Malik

    HUKUM MERAYAKAN ULANG TAHUN ANAK

    Oleh
    Syaikh Muhamamd bin Shalih Al-Utsaimin

    Pertanyaan.
    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apakah perayaan ulang tahun anak termasuk tasyabbuh (tindakan menyerupai) dengan budaya orang barat yang kafir ataukah semacam cara menyenangkan dan menggembirakan hati anak dan keluarganya ?

    Jawaban.
    Perayaan ulang tahun anak tidak lepas dari dua hal ; dianggap sebagai ibadah, atau hanya adat kebiasaan saja. Kalau dimaksudkan sebagai ibadah, maka hal itu termasuk bid’ah dalam agama Allah. Padahal peringatan dari amalan bid’ah dan penegasan bahwa dia termasuk sesat telah datang dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:

    “Artinya : Jauhilah perkara-perkara baru. Sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan berada dalam Neraka”.

    Namun jika dimaksudkan sebagai adat kebiasaan saja, maka hal itu mengandung dua sisi larangan.

    Pertama.
    Menjadikannya sebagai salah satu hari raya yang sebenarnya bukan merupakan hari raya (‘Ied). Tindakan ini berarti suatu kelalancangan terhadap Allah dan RasulNya, dimana kita menetapkannya sebagai ‘Ied (hari raya) dalam Islam, padahal Allah dan RasulNya tidak pernah menjadikannya sebagai hari raya.

    Saat memasuki kota Madinah, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendapati dua hari raya yang digunakan kaum Anshar sebagai waktu bersenang-senang dan menganggapnya sebagai hari ‘Ied, maka beliau bersabda.

    “Artinya : Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian hari yang lebih baik dari keduanya, yaitu ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha”.

    Kedua.
    Adanya unsur tasyabbuh (menyerupai) dengan musuh-musuh Allah. Budaya ini bukan merupakan budaya kaum muslimin, namun warisan dari non muslim. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

    “Artinya : Barangsiapa meniru-niru suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”.

    Kemudian panjang umur bagi seseorang tidak selalu berbuah baik, kecuali kalau dihabiskan dalam menggapai keridhaan Allah dan ketaatanNya. Sebaik-baik orang adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Sementara orang yang paling buruk adalah manusia yang panjang umurnya dan buruk amalanya.

    Karena itulah, sebagian ulama tidak menyukai do’a agar dikaruniakan umur panjang secara mutlak. Mereka kurang setuju dengan ungkapan : “Semoga Allah memanjangkan umurmu” kecuali dengan keterangan “Dalam ketaatanNya” atau “Dalam kebaikan” atau kalimat yang serupa. Alasannya umur panjang kadangkala tidak baik bagi yang bersangkutan, karena umur yang panjang jika disertai dengan amalan yang buruk -semoga Allah menjauhkan kita darinya- hanya akan membawa keburukan baginya, serta menambah siksaan dan malapetaka.

    Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

    “Artinya : Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (kearah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana amat teguh”. [Al-A'raf : 182-183]

    Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

    “Artinya : Dan janganlah sekali-kali orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah labih baik bagi mereka. Sesungguhnya Kami memberi tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka, dan bagi mereka adzab yang menghinakan”. [Ali-Imran : 178]

    [Fatawa Manarul Islam 1/43]

    [Disalin dari kitab Fatawa Ath-thiflul Muslim, edisi Indonesia 150 Fatwa Seputar Anak Muslim, Penyusun Yahya bin Sa'id Alu Syalwan, Penerjemah Ashim, Penerbit Griya Ilmu]

  12. shayna

    Alhamdulillah, saya menemukan artikel ini shg saya terhindar dari kesesatan yang berkelanjutan. Kaum muslimin harus lebih mendalami ilmu agamanya agar terhindar dari kesesatan krn kebodohan dan kemunafikan

  13. ulang tahun=maulidah/maulid,arti dan maksudnya sama.dan nabi tidak mengadakan maulid atau merayakan ultahnya.maulid itu ada setelah bertahun2 kejayaan islam

  14. Muhammad Erick Setiawan

    الجواب:
    لا يجوز إحداث أعياد في الإسلام غير ما بينه النبي صلى الله عليه وسلم من عيدي الفطر والاضحى وهذا يدعو إلى الإحداث في الدين والابتداع في الدين ويدعو إلى الإسراف واحراج الفقراء من وضع المآدب في مثل هذه المناسبات وفيها ايضا تشبه بغير المسلمين والله أعلم
    Jawaban Syaikh Abdul Muhsin bin Nashir al Ubaikan, “Tidak boleh mengada-adakan ied [hari yang diistimewakan karena harinya yang dirayakan secara berkala, pent] dalam Islam selain ied yang diajarkan oleh Nabi yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Dua ulang tahun yang ditanyakan adalah terlarang karena beberapa alasan:
    Pertama, hal ini mendorong untuk mengada-ada dalam masalah agama dan membuat bid’ah dalam Islam
    Kedua, perbuatan tersebut menyebabkan timbulnya perilaku boros dan menyusahkan orang-orang miskin dengan diadakannya jamuan makan-makan dalam momen semisal ini.
    Ketiga, menyerupai non muslim”.

  15. Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh

    Segala puji hanya bagi Allah, Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah, keluarga dan sahabatnya yang setia sampai hari kiamat, amma ba’du;

    Saudaraku –Barokalloh Fiik,

    Hindarilah hal-hal semacam itu karena merupakan tasyabbuh atau menyerupai dan meniru kebiasaan orang-orang kafir. Rasulullaah –Shallallaahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam bersabda: “Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia adalah bagian dari mereka.” (Hadis Sahih).

    Wallaahul Musta’aan.

  16. Mukhanif

    kalo memang merayakan ulang taun itu udah ada sejak jaman sebelum rosul kenapa tadak ada larangan secara tegas bahwa merayakan hal tersebut dilarang,
    menurut saya perayaan itu mubah jikalau tidak ada perbuatan maksiat yg menyelimuti perayaan tsbt hal mubah adalah perbuatan yg tidak dilakukan rosul tapi beliau jg tadak melarang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s