Saif Ayatullah Ba’Abduh

Rakyat Lapar, Pejabat Sangar

Posted by: saif1924 on: Mei 9, 2008

Akhir-akhir ini kita sering mendengar berita tentang kelaparan dan gizi buruk. Seorang Ibu di Makassar yang sedang hamil besar dikabarkan mati kelaparan bersama putranya yang berusia lima tahun. Berita ini lantas menjadi sorotan publik. Bagaimana mungkin ada yang mati kelaparan di lumbung pangan? Terjadilah salah menyalahkan.
Masyarakat menyalahkan pemerintah, sebaliknya pemerintah pun tak mau disalahkan. Entah siapa yang salah, yang jelas kasus ni seperti gunung es. Yang nampak di permukaan hanyalah sebagian kecil, sedangkan masalah yang lebih besar be rada jauh di dalam.
Sebelum kasus ini terungkap pun sebenarnya gizi buruk sudah menimpa banyak orang. Mereka yang hanya bisa makan sehari sekali, atau makan nasi aking seakan menjadi hal biasa. Itupun yang diliput oleh media. Daerah yang tak terjangkau sarana transportasi dan komunikasi seperti baik-baik saja. Pertanyaannya, mengapa ini semua terjadi justru di negeri yang subur tanahnya, lumbung pangan yang seharusnya bisa menjamin kebutuhan rakyatnya?

Bukan Kelangkaan
Ini memang bukan masalah kelangkaan yang membuat masyarakat kekurangan pangan. Akan tetapi, daya beli masyarakat yang rendahlah yang menjadi penyebab timbulnya gizi buruk dan kelaparan. Dengan pemasukan yang kecil sementara  harga-harga kebutuhan pokok pun terus melambung tinggi. Akibatnya masyarakat hanya bisa membeli semampu mereka. Sebut saja raskin yang diperuntukkan bagi orang miskin dengan kualitas sangat rendah dan tak pantas dikonsumsi oleh manusia. Bagaimana dengan beras yang dimakan pejabat, apakah kualitasnya sama dengan raskin tersebut? Hal ini menjadi sebuah ironi, ketika rakyat menjerit, DPR justru meminta tunjangan untuk mengakselerasi kinerja mereka. Padahal rakyat yang mereka wakili tengah berteriak lapar, menangis agar keadaan ini segera berubah.
Mahalnya harga beras jga tak serta merta ada dengan sendirinya. Ada faktor-faktor lain yang juga memengaruhi seperti mahalnya harga pupuk, permainan tengkulak, kondisi cuaca dan iklim. Sebagaimana kita ketahui, saat ini dunia tengah mengalami pemanasan global dan perubahan iklim. Bencana pun datang silih berganti, sumber pencaharian masyarakat pun banyak yang rusak dan berujung pada rendahnya pendapatan, akibatnya tak semua kebutuhan terpenuhi. Maka jangan heran pula jika gizi buruk melanda.

Harus Ada Perubahan!
Pergantian kepemimpinan tiap periode ternyata tak menjamin perubahan yang signifikan. Kemiskinan dengan segala turunannya menjadi masalah yang paling utama, di samping masalah KKN dan sebagainya juga ikut memengaruhi masalah utama negeri ini. Keberpihakan pemerintah kepada rakyat nampaknya belum begitu ditunjukkan pemerinah. Kebijakan-kebijakan yang dibuat lebih banyak menyengsarakan rakyat, sebut saja kenaikan harga BBM, listrik dan harga-harga lainnya. Saat rakyat menjerit, kebijakan lainnya yang menambah kesengsaraan rakyat pun dibuat. Banyak aset negara yang digadaikan atau justru dijual. Gunung emas di Papua, sumur minyak di blok Cepu, milik Indonesia memang, tapi adalah sebuah pertanyaan wajar tentang mengapa kesejahteraan rakyat belum tercipta di negeri yang kaya raya ini. Kemiskinan di negeri yang kering dan tandus mungkin bisa dimengerti, tetapi itu terjadi di Indonesia, yang kata seniman, tongkat dilempar jadi tanaman. Namun predikat manis itu seakan lenyap begitu melihat kenyataan yang sebaliknya.
Sekali lagi, kelaparan itulah puncak gunung es, yang di dalamnya masih banyak masalah yang tak terlihat karena ia terlalu dalam menghunjam ke dasar. Fenomena ini jika dibiarkan, akan semakin menenggelamkan Indonesia ke dalam lautan kesengsaraan. Maka perubahan adalah niscaya. Namun perubahan seperti apa yang diharapkan? Apakah perubahan yang sekedar tambal sulam untuk meninabobokan rakyat dari segala permasalahan negeri ini atau perubahan yang dapat membawa kesejahteraan rakyat?
Telah banyak teori yang ditawarkan, sebut aja demokrasi yang saat ini menjadi “dewa” yang diagung-agungkan. Demokrasi yang terkenal dengan “dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat” nyatanya hanya dongeng sebelum kita tidur untuk selamanya secara perlahan tanpa kita sadari.
Terbukti, demokrasi tak mampu membawa perubahan selain menghabiskan dana untuk memilih pemimpin baru setiap Pemilu.

Islam, Mengapa Tidak?
Adalah suatu hal yang wajar jika kita “bangga” pada apa yang kita miliki. Dalam hal ini, sebagai umat islam kita yakin bahwa Islam mampu menyejahterakan rakyatnya, tak hanya bagi umat Islam, tapi juga bagi non muslim karena Islam adalah rahmatan lil ‘alamin. Justru merupakan keanehan bila kita pesimis terhadap Islam sebab di sanalah keimanan kita menuntut konsekuensi. Islam dengan segala konsepnya, sangat membutuhkan praktik karena Islam memang untuk dipraktikkan, bukan untuk dikhayalkan atau sekedar dipelajari. Misalnya tentang tanggung jawab seorang pemimpin terhadap rakyatnya dan semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak.
Islam bukanlah agama ritual semata, melainkan sebuah ideologi. Sebagai sebuah ideologi yang shahih, tentu Islam memiliki cara-cara yang lengkap untuk mengatasi berbagai problematika manusia, termasuk problem kemiskinan. Dari pebahasan ini, tampak bagaimana kehandalan Islam dalam mengatasi problem kemiskinan. Apabila saat ini kita menyaksikan banyak kemiskinan yang justru melanda umat Islam, hal itu disebabkan karena mereka tidak hidup secara Islam. Sistem hidup selain Islam-lah (Kapitalis, Sosialis/Komunis) yang mereka terapkan saat ini, sehingga meskipun kekayaan alamnya melimpah, tetap saja hidup dalam kemiskinan. Allah Swt. berfirman:
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى
Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta (TQS. Thahaa[20]: 124)

Kemiskinan atau kefakiran adalah suatu fakta, yang dilihat dari kacamata dan sudut manapun seharusnya mendapat pengertian yang sesuai dengan realitasnya. Sayang peradaban Barat Kapitalis pengemban sistem ekonomi Kapitalis memiliki gambaran/fakta tentang kemiskinan yang berbeda-beda. Mereka menganggap bahwasannya kemiskinan adalah ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan atas barang maupun jasa secara mutlak. Dan karena kebutuhan berkembang seiring dengan berkembang dan majunya produk-produk barang maupun jasa, maka mereka menganggap usaha pemenuhan kebutuhan-kebutuhan atas barang dan jasa itupun mengalami perkembangan dan perbedaan.
Akibatnya, standar kemiskinan/kefakiran di mata para Kapitalis tidak memiliki batasan-batasa yang fixed. Dia AS atau di negara-negara Eropa Barat misalnya, seseorang yang tidak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan sekundernya sudah dianggap miskin. Sementara di Irak, Sudan, Bangladesh misalnya seseorang yang tidak dapat memenuhi kebutuhan sekundernya, tidak dikelompokkan dalam kategori fakir/miskin. Perbedaan-perbedaan ini meski fakta tentang kemiskinan itu sama saja dimanapun akan mempengaruhi mekanisme dan cara-cara pemecahan masalah kemiskinan.
Berbeda halnya dengan pandangan Islam, yang melihat fakta kefakiran/kemiskinan sebagai perkara yang sama, baik di Eropa, AS maupun di negeri-negeri Islam. Bahkan pada zaman kapanpun, kemiskinan itu sama saja hakikatnya. Oleh karena itu, mekanisme dan cara penyelesaian atas problematika kemiskinan dalam pandangan Islam tetap sama, hukum-hukumnya fixed, tidak berubah dan tidak berbeda dari satu negeri ke negeri lainnya. Karena Islam memandang bahwa kemiskinan adalah fakta yang dihadapi umat manusia, baik itu muslim ataupun bukan muslim.
Islam memandang bahwa masalah kemiskinan adalah masalah tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan primer secara menyeluruh. Dan syariat Islam telah menentukan kebutuhan primer itu (yang menyangkut eksistensi manusia) berupa tiga hal, yaitu sandang, pangan dan papan. Allah SWT berfirman:

]وَعَلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ[
“Dan kewajiban ayah adalah memberikan makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf.” (QS. Al Baqarah:233)

Di akhir tulisan ini, saya teringat kisah Kholifah Umar bin Khattab yang berkeliling untuk melihat apakah ada rakyatnya yang tidak bisa tidur nyenyak karena kelaparan? Lalu beliau memanggul sekarung makanan seorang diri untuk sebuah keluarga yang sedang memasak batu untuk menenangkan anak-anaknya. Saat pengawalnya bermaksud membantu, jawab Umar, “apakah kalian mau menanggung dosaku di akhirat kelak?”. Kisah ini membuat saya bertanya-tanya, “mungkinkah hal seperti itu dilakukan oleh SBY?”
Wallahu a’lam bi ash-Shawab…

1 Tanggapan ke "Rakyat Lapar, Pejabat Sangar"

Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
http://www.infogue.com/
http://politik.infogue.com/rakyat_lapar_pejabat_sangar

Tinggalkan Balasan

Peta Pengunjung