Posted by: saif1924 on: Januari 4, 2008
Lebih khusus ilmu yang dimaksud disini adalah ilmu syari’at atau fiqih. Karena fiqih adalah ilmu yang membahas tentang perkara zhohir dari suatu ibadah. Fiqih hanya membahas apakah suatu ibadah itu dapat dinilai sah atau tidak. Selama ibadah itu dilakukan sesuai dengan syari”at dan rukunnya maka pelakunya telah bebas dari kewajibannya secara hukum fiqih. Fiqih tidak melihat apakah anda sudah melaksanakan ibadah itu dengan kekhusyu’an dan memperhatikan adab-adabnya atau tidak. Adapun hakikat tasawuf adalah yang memperhatikan perkara hati ketika beramal, apakah saat itu ada keterikatan hati kepada Allah atau tidak. Dengan tasawuf akan membuahkan keindahan akhlak dari fiqih (ilmu). Contohnya adalah seorang yang melaksanakan sholat akan tampak khusyuk, bacaannya indah, gerakannya indah karena hatinya terikat dengan Allah SWT sehingga merasakan pengawasan dalam setiap bacaan dan gerakannya.
Dalam tasawuf, hati memang menjadi obyek utama yang lebih diperhatikan. Karena itu keikhlasan para sufi sudah teruji dan mungkin sudah tidak dapat diragukan lagi. Disamping keikhlasan, unsur yang terpenting yang harus dipenuhi dalam setiap amal ibadah adalah unsur kesesuaian amalan tersebut dengan tuntunan atau ajaran Nabi Muhammad SAW. Dari sisi inilah aliran tasawuf banyak yang tergelincir. Sehingga banyak terlihat mengadakan praktek amalan ibadah yang kurang atau bahkan tidak sesuai dengan tuntunan sunah Nabi SAW. dalam hal ini kaum sufi bisa termasuk golongan orang yang disebut dalam surat al-Kahfi ayat 104 yang artinya : “Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”
Diantara kesesatan aliran tasawuf yang terlihat adalah:
1. mengambil mentah-mentah kisah-kisah yang berbau mistik dan khurafat tanpa ada landasan syari’atnya.
2. Tidak menyaring antara hadits-hadits yang shohih dan yang dho’if. Bahkan sering juga mengamalkan hadits-hadits yang maudu’.
3. Mentaati syeikhnya secara mutlak, bahkan ada yang meningkat ketaraf mengkultuskan. Menganggap bahwa syeikhnya tidak pernah jatuh pada kesalahan, sehingga semua perintahnya harus dilaksanakan.
4. Lebih meyakini dan mengikuti kata hatinya daripada mengikuti syari’at, apalagi jika diyakini itu adalah ilham, atau kasyf.
5. Tidak memperhatikan tuntunan syari’at dalam amal ibadah, zikiran, dan apa yang dianggap amal kebajikan. Seperti lebih mengutamakan zikiran yang disusun oleh syeikhnya daripada susunan dan aturan yang telah diajarkan Nabi SAW. Juga berlebihan dalam praktek ibadah (ghuluw) dan menafsirkan ayat atau hadits.
Kesalahan yang diperbuat para kaum sufi itu adalah akibat dari kurangnya perhatian mereka terhadap ilmu syari’at. contohnya lagi yaitu mereka mengangap bahwa gerakan yang menyertai zikiran itu dapat menambah kekhusyu’an dalam berzikir. Tetapi mungkin dapat kita katakan untuk menjawab anggapan ini adalah bahwa gerakan spontan ketika berzikir itu boleh saja seperti gerakan spontan ketika kita sedang menikmati membaca alqur’an. Kesalahannya adalah jika gerakan itu bukan secara spontan adanya. Tetapi gerakan itu adalah sengaja dibuat tata caranya oleh seorang syeikh dan kadang menjadi keharusan bagi anggota aliran tasawuf tersebut ketika berzikir. Karena dalam tuntunan Nabi SAW tidak ada keharusan melakukan gerakan khusus ketika berzikir. dalam kaidah disebutkan bahwa sesuatu yang mutlak (tidak terikat) jika di ikatkan maka telah menyalahi (termasuk bid’ah) dan sebaliknya bahwa sesuatu yang terikat (waktu, tempat atau tata cara) jika di mutlakan maka juga berarti bid’ah. Kesalahan sufi dalam hal zikir ini adalah mereka mengikatkan zikiran yang dimutlakan dengan gerakan atau tata cara khusus yang mengiringinya. Untuk contoh kaidah yang kedua misalnya adalah tawaf yang dilakukan orang awam pada kuburan-kuburan para wali. Bid’ah disini adalah mereka memutlakan ibadah tawaf yang sudah terikat dengan tempat yaitu hanya di ka’bah saja menjadi ibadah yang boleh dilakukan selain di ka’bah.
Contoh lainnya tentang kesalahan golongan sufi adalah tentang konsep cinta kepada Allah yang berlebihan. Ini terjadi karena kurang memperhatikan kaidah-kaidah penafsiran ayat atau hadits yang telah disepakati oleh para ulama. Ungkapan cinta yang berlebihan secara spontan mungkin dapat dimaklumkan, tapi jika ungkapan itu dijadikan konsep ajaran maka disitulah letak kesalahannya. Karena dengan begitu telah membingungkan orang awam dan bisa menyulitkan diri dengan memaksakan untuk melakukan amalan yang diluar kemampuannya. Dan ini berarti telah menyalahi ajaran Islam yang asalnya bersifat mudah dan tidak menyulitkan diri.
Pengetahuan tentang tuntunan Nabi SAW itulah yang dimaksud dengan ilmu disini. Dengan ilmu itu juga dapat menjadi penilaian, apakah aliran itu dapat diterima atau tidak (sesat). Dalam hal ini kalangan ulama sufi generasi awal sendiri menegaskan bahwa tarikat yang tidak berlandaskan ajaran murni Islam dari kitab dan sunah adalah bukan temasuk tasawuf Islam. Sebagaimana pernyataan syeikh para sufi al-Junaed bin Muhammad : “Semua aliran tarikat tertutup bagi makhluk kecuali yang mengikuti jejak Rasulullah SAW”. Berkata juga yang lain: “Aliran kita adalah terikat dengan kitab dan sunah”.
Segala bentuk ibadah dari zikir, sholat, puasa, berdoa, dan lain sebagainya itu pada asalnya adalah haram hukumnya. Karena ibadah adalah perkara yang yang hanya terbatas pada apa yang telah diperintahkan Allah SWT saja. Atas dasar ini, segala bentuk ibadah yang tidak sesuai dengan tuntunan Nabi SAW adalah sesat dan tidak dapat diterima. Sebagaimana sabda Nabi SAW: “Barang siapa yang mengerjakan amalan yang tidak berasal dari tuntunan kita, maka hal itu ditolak”.(HR. Bukhory dan Muslim)
Dengan pondasi syari’at yang kuat tasawuf ini akan lebih terjaga keabsahannya. Karena syari’at adalah petunjuk. Barang siapa yang memanfaatkan petunjuk tidak akan tersesat jalan. Sebaliknya, barang siapa yang meneluri jalan tanpa petunjuk tidak akan pernah sampai tujuan. Dari sini, jelaslah bahwa syarat kebenaran sebuah aliran adalah harus berlandaskan ilmu. Sebagimana kaidah arab yang menguatkan pernyataan ini: “barang siapa salah jalan berarti dia akan sesat”.
Imam Syafi’i membagi manusia berdasarkan hal ini menjadi tiga yaitu: ahli fiqih, sufi dan ahli fiqih yang sufi. Dalam syairnya beliau menggambarkan hubungan ilmu dan tasawuf ini:
seorang ahli fiqih dan sufi selayaknya tak boleh terpisah
Demi Allah aku akan menasihati kamu (tentang hal ini)
Kalau yang itu ( ahli fiqih) keras hatinya karena belum merasakan ketakwaan
Dan yang ini (sufi) bodoh, bagaimana dia bisa berbuat perbaikan jika dia bodoh
Merupakan kenikmatan jika memiliki isteri yang memahami bahwa menyiapkan sarapan dan perlengkapan suami yang akan berangkat pagi hari adalah lebih utama dari menghabiskan waktu berzikir dengan hitungan ribuan kali. Juga kenikmatan bagi seorang isteri jika memiliki suami yang memahami bahwa mencari nafkah adalah bentuk ibadah yang lebih utama dari duduk bermalasan walau sambil berzikir dengan hitungan ribuan kali. Seperti halnya pemahaman sahabat bahwa membantu menyelesaikan keperluan saudaranya adalah lebih utama dari beri’tikaf dalam masjid nabawy sekalipun.
Karakteristik kehidupan robany dalam Islam
Jika kita sepakat bahwa inti ajaran tasawuf adalah untuk mencapai kehidupan robany, maka pada hakikatnya adalah bahwa dari yang awam hingga para ualma semuanya membutuhkan pembinaan iman untuk menggapai kehidupan yang robany. Dan pembinaan itu tentunya harus berlandaskan ilmu. Seorang yang memiliki ilmu bisa tampak lebih sufi dari orang yang berada dalam aliran tasawuf. Sebagaimana orang bisa tampak lebih berilmu dari orang yang duduk di bangku sekolah.
Dari uraian sebelumnya diharapkan dapat mengantarkan kita dalam menyikapi aliran tasawuf yang ada dengan sikap yang moderat. Artinya tidak memihak kepada golongan yang menganggap bahwa semua aliran tasawuf adalah sesat, juga tidak memihak kepada golongan yang tenggelam meyakini bahwa aliran tasawuf itu adalah tampilan ideal Islam. Adapun tampilan Islam yang ideal mungkin dapat kita lihat dari karakteristik kehidupan yang robany dalam Islam sebagai berikut:
1. Tauhid
Tauhid adalah mengesakan Allah SWT dalam ibadah dan mohon pertolongan. Seorang muslim hanya beribadah kepada Allah SWT dan hanya memohon pertolongan kepada Allah SWT. Kehidupan robany dalam Islam adalah yang berlandaskan tauhid yang intinya dapat tercangkup dalam empat perkara:
a.Tidak mencari tuhan selain Allah SWT. (lih: QS: Al-An’am: 164)
b.Tidak mengambil wali selain Allah SWT. (lih: QS: Al-An’am: 14)
c.Tidak mengharap hukum selain hukum Allah SWT.(lih: QS: Al-An’am: 114)
d.Tidak mengharap keridhoan selain dari Allah SWT.(lih: QS: Al-An’am: 162-163)
2. Mengikuti Tuntunan
Seorang muslim adalah yang melandaskan segala amalannya dengan syari’at. Karena syarat diterimanya sebuah amalan adalah harus memenuhi dua syarat yaitu : keikhlasan kepada Allah SWT semata dan harus sesuai dengan tuntunan Nabi SAW. Sebagaimana sabda Nabi SAW yaang artinya: “Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami, yang tidak kami perintahkan atasnya, maka hal itu ditolak”. (HR: Bukhory dan Muslim)
3. Menjaga Keseimbangan
Muslim adalah yang menjaga keseimbangan dalam beribadah dan menjalani kehidupannya. Kegiatan untuk akheratnya dan amal ibadahnya tidak sampai berlebihan dan tidak sampai melupakan urusan duniaannya apalagi hak-hak orang lain. Dia sholat, puasa, zakat, haji, berzikir, tapi juga mencari nafkah, bercanda dengan keluarga dan olahraga. Dalm hal ini ada hadits Nabi SAW tentang sikap Beliau SAW terhadap sahabatnya yang salah memahami ajaran sehingga ada yang ingin puasa terus tanpa berbuka, ada yang ingin qiyamulail tanpa istirahat, dan ada yang tidak ingin menikah. Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya aku adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah SWT tetapi aku puasa juga berbuka, aku qiyamulail juga tidur, dan aku juga menikahi wanita. Dan barang siapa yang tidak menyukai sunahku, maka bukan termasuk golonganku”. (HR: Bukhory dan Muslim)
4. Berkesinambungan
Setiap nafas seorang muslim hendaknya terus dipenuhi zikir dan bernilai ibadah. Perintah-perintah ibadah yang ada seperti ada sholat lima waktu, sholat jum’at, sholat hari raya, juga haji misalnya, itu semua menuntun muslim untuk menjaga hubungan yang berkesinambungan dan tidak terputus dengan Allah. SWT. (lih:QS: Al-Hijr: 99)
5. Mudah dan Luas
Meskipun ibadah dalam Islam itu sifatnya berkesinambungan, tetapi ada kemudahan dan tidak ada pemaksaan untuk melakukan amalan yang diluar kemampuan hamba. (lih: QS: Al-Maidah: 6). Kehidupan robany dalam ajaran Islam juga kita dapatkan adanya kelonggaran bagi muslim sesuai dengan tingkat keimanannya dan kemampuannya. Sehingga kita dapatkan kelonggaran Islam bagi orang yang hanya sanggup menjaga amalan yang wajib-wajib saja. Islam tidak menutup jalan bagi para pendosa yang ingin bertaubat. Disamping para pemilik keimanan yang tinggi seperti para sahabat Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali Radliyallâhu’anhum yang sanggup melaksanakan amalan-amalan sunah sebagai tambahan.
6. Beragam
Seorang muslim dapat menjadikan segala amalan hidupnya bernilai ibadah. Dalam Islam ada ibadah badaniyah dan ibadah hati. Ada perintah dan larangan. Ada yang wajib, sunah, haram, makruh dan yang mubah. Itu semua menuntut muslim untuk dapat memperhatikan hal-hal prioritas dalam beramal. Contohnya bersedekah kepada tetangganya yang membutuhkan lebih diutamakan dari melaksanakan ibadah haji sunah.
7. Universal
Muslim hendaknya memahami keuniversalan ajaran Islam, tidak sebatas dalam amalan ibadah. Segala aspek kehidupan muslim yang mencangkup urusan dunia atau akhirat harus berlandaskan ajaran Islam. Muslim tidak memisahkan antara masalah ibadah, politik, ekonomi, sosial dan budaya. Kehidupan muslim bukan hanya di dalam masjid, tapi juga dapat mengikat hatinya dengan masjid meskipun jasadnya di luar masjid.
Sesungguhnya Islam menuntun umatnya untuk dapat memperhatikan semua aspek kehidupanya secara seimbang. Seorang muslim yang moderat memiliki karakteristik kehidupan robany. Pemahamannya akan makna ibadah tidaklah sempit, hanya sebatas amalan ibadah ritual saja seperti shalat, puasa, zikir sebagaimana yang dipahami oleh sebagian besar golongan sufi.
Karakteristik muslim moderat ini semua ada dan telah dicontohkan dalam kehidupan Nabi SAW. Sehingga Aisyah Radliyallâhu’anha berkata ketika mensifati kehidupan Beliau SAW: “Sesungguhnya akhlak Beliau SAW adalah Qur’an“.
September 12, 2008 pada 6:56 pm
asalamualaikum tuan,saya insan kerdil yang mahu mendalami ilmu allah ,sila nyatakan bagaimana saya bisa mendapatkannya.
ihat aja di http://www.majlisrasulullah.org atau http://www.khilafah1924.org atau lihat saja di link aku.